Wednesday, June 15, 2011

Dibalik nama ”nia”




Pagi itu senja menampakkan bayangnya bulan sabit yang cerah dan sejuk di rasakan kulit, pada saat itu diperkamungan yang sejuk dan sunyi masih terasa alaminya, dengan dedaunan yang hijau disetiap pohon, suara aliran air yang jernih, Tinggallah sebuah gubuk yang masih menggunakan  bambu yang sangat memprihatinkan yang sangat sederhana dengan atap yang masih menggunakan  dan dindingnya pun anyaman bambu, di huni oleh nenek dan cucu semata wayangnya.
            Pada saat itu nia namanya sedang membantu neneknya yang sudah tua renta tidak bisa lagi menjalalni aktifitas yang dilakukanyya pada saat muda dulu.
            “Nia”.... “...pada saat suara adzan subuh menggema dengan alunan yang sangat merdu. Nia pun terbangun dan bertanya pada neneknya, ada apa nek.....nia membakasnya dengan muka yang masih sungkan untuk membuka mata. Azan zhubuh sudah terdengar ayo kita shlat dulu habis shlat, nia bantu nenek ya.? Iya nek jawab nia
            nia pun bergegas seperti biasa dia menimba air untuk nenek dan dirinya, ayun demi ayun dia lakukan dengan penuh tenaga yang iya punya...satu per satu air pun memenuhi tempatnya.Mereka  pun sholat dengan khusuk dan nikmat, sembbari nia berdo'a agar diberikan kesehatan dan rizki yang halal di pagi hari seperti biasanya. Dia pun meneteskan air mata karena tak kuasa dalam hati nia masih teringat kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkannya. Hingga sekarang dia tinggal dan diasuh dengan nenek tercintanya, nia kenapa kamu menangis....kata nenek. Enggak kok nek, nia enggak nangis
            nia pun mengalhkan pembicaraan dengan bertanya kepada neneknya: nek hari ini kita masak apa? Tanya nia dengan mendekat kan suaranya ke telinga neneknya...maklum sudah tua. Cahaya pagi pun menyusul dengan sendirinya...ayo kita beres beres dulu .... iya nek...mereka pun mulai dengan bahu membahu dan saling membantu sama halnya yang dilakukan sebelumnya.
            Setelah itu, nia pun melangkah keuar untuk memasak diapagi hari untuk makan bersama neneknya, singkat cerita nia pun telah selesai menyiapkan segala keperluan neneknya sebelum ia berangkat berjualan bunga di pasar tardisional....pagi pun  sudah cerah nia pamit kepada neneknya dengan mencium tangan neneknya dan pergi menngunakan sepeda tuanya yang ia beli hasil dari jaualan bunga itu.
            Nia mengayun speda tua itu dengan langkah pasti dan optimis bila hari ini jualannya akan laku cepat beratus kilo ia kayuh sepeda tua itu capek dan letih pun tidak terlihat alam mimik muka nia.walaupun keringat membasahi wajah beserta tubuhnya karena sang matahari yang sedang menjulang tinggi dii pagi hari itu.
            Di tengah perjalannan ia merasa lelah dan ingin beristorahat sebentar, ia pun segera memindahkan sepedanya ke pinggiran jalan dan ia pun duduk sambil mengipasi tubuhnya yang basah kuyup dengan keringat. Ia pun melihat seorang anak yang sedang berjala dengan ibu dan ayahnya dan ia pun tersenyum. Alam hati dia betapa bahagianya dia, andai saja aku bisa seperti dia. Dan ia pun melamun sejenak betapa bahagianya ia bila sampai saat ini dia msaih bisa bertemmu dengan ibu kandungnya,
            Dan ia pun segera sadar dengan lamunan itu, dan segera ingat akan tugas nya ia pun mengambil lagi sepeda dan diayuhkan kembali menelusuri jalan. Langkah demi langkah jalanan ia kayuh dengan sepeda tuanya, dalam persimpangan ia pun mendapati sahabat karibnya yang tinggal jauh dengan dirinya dan ia pun menyapa yang masih jauh sudah terlihat. Tari namanya sahabat yang nia punya...
            Dia pun menuju di persimpangan dan menghampirinya dan bertanya? Mau kemana ri...nia membuka pertanyaan pertamanya... ini mau ke kota jawab tari. Apa kabar lanjut lanjut nia dan berjabat tangan, “baik” kata tari. Tari pun sebalikknya mau jualan seperti biasa ya nia....ia tapi tidak tau ini kenapa hari ini panas sekali...timpal nia. Tari pun menjawab dengan gaya dan keidengannya lagian kamu ke kota pake sepeda yang udah tua ini...mereka pun terlibat saling canda dan tawa karena mereka berdua dahulu dipertemukan sebagai sahabat waktu mereka berdua masih menginjak sekoalah menengah pertama.
            Meraka pun akhrnya berangkat bersama dengan dua sepeda beriringan sambil bertanya satu sama lain. Untuk diketahui dahulu mereka berdua bertetangga karena mereka tinggal tidak berjauhan, namun setelah lulus tari dan keluarganya berniat pindah dan pindahlah keluarga mereka mencari tempat yang lebih dekat dengan kota, setiap harinya mereka berdua memang maklum mereka bekerja ditempat yang sama sebagai penjual bunga, tak lama mereka mengayuh sepeda sudah terlihat kumpulan para pembeli yang mondar mandir beraktivitas dalam pasar yang terletak di sudut kota.
            Akhirnya sampai juga nia ...iya enggak sia sia ya. Tapi sudah menjelang siank ni kata tari, ya akluma aja la kita kan jauh dari kota. Tapi alhamdulillah kita selamat sampai tujuan sambil memakirkan sepadanya di samping rumah tempat jualan bunga itu, tari pun segera mengikuti langkah nia dengan memakirkan sepedanya tepat disamping sepeda nia. Dan segera menuju ke nia yang sedang membuka pintu dengan kunci yang ia bawa, alhamdulillah terbuka juga nia pun dengan ligatnya langsung membuka jendela dan merapikan, dan membersihkan tempat yang sudah dianggap sebagai rumah sendiri.
            Mereka berdua memang sangat kompak dan saling bahu membahu satu sama lain, dengan berbagai macam bunga dan aksesorisnya mereka keluarkan dari tempat persembunyiannya dan dengan berbagai macam pula jenis dan warna sampai memenuhi ruangan yang sudah dibersihkannya. Tari masih sibuk dengan aktivitasnya dengan sibuknya.
            Kemudian nia keluar dan mengambil siraman air untuk menyiram bunga yang sudah berada diluar agar terasa segar, dia  pun mengambil air lalu menyiramkannya dengan penuh perasaan satu persatu bunga yang alami ia sirami seperti hari hari yang lalu, dia pun melihat satu buah bunga yang ternayata berbunga dan ia sangat suka sekali dengan bunga itu. Dia pun menghampiri dan tersenyum betapa indahnya hidup ini. Dari dalam rumah tari memanggil nia.. ia berkali kali.
            Namun nia yang sedang menikmati dan memandangi bunga itu, tidak mendengar panggilan dari sahabatnya. Tari pun melihat dari bilik jendela dan mendapati bahwa sahabatnya sedang memandangi bunga yang mereka sangat sukai itu, dia pun segera keluar dan memenaggil niaaaa!!!
kemudian nia pun tersentak dan memudarka lamunannya..kenapa jawab nia. Tari sambil berlari bungaku sudah mekar.....jawab tari. Bunga yang mana, itu jawab tari. Mana balik nia bertanya.
            Mereka berdua pun memuji dan melihat dengan bahagia karena bunga favorit mereka sudah berbunga dan indah sekali, namun kebahagiaan mereka tidak terlalu lama, karena kedatangan seorang pembeli yang membuyarkan pandangan mereka dengan memakai pakaian yang rapi dan memakai sebuah mobil yang begitu mewah menurutnya. Tari pun segera menghampiri dan menyampaikan selamat datang di bursa bunga namanya. Terima kasih jawab pembeli itu.
            Ada yang bisa saya bantu pak...kata tari, boleh jawab pembeli itu. Saya mau mencari bunga buat ibu saya jawabnya. Ibu...bingung tari.
            Nia pun sudah berada didalam masuk dan mencari kegiatan lain. Tari masih menemani pembeli itu, mereka berdua terlibat percakapan bagaimana layaknya pembeli dan penjual dan pembeli. Hingga tari pun berkenalan dan tahu nama satu sama lain. Hingga mereka pun dekat diektahui namanya adalah toni. Toni pun memutari mencari bunga yang cocok untuk hadiah ulang tahun ibunya dimana ibunya sangat suka sekali dengan bunga yang tumbuh begitu subur menurutnya.      
            Dia pun memutari kebun yang sudah ditanami dan disirami nia waktu itu sehingga nampak begitu sehat san enak dipandang mata, toni pun memutar dan terus memutar karena bingung mau pilih yang mana dalam hatinya. Pada saat dia membalikkan badan mata dia tertuju pada bunga yang tadi nia dan tari dipujinya.
            Dia pun mengatakan bunga ini indah sekali tanya toni pada tari. Tari dengan muka berubah karena dia kwatir bila bunga ini yang nantiny akan dibelinya, dia pun menjaawab dengan pelan ia. Ini bunga yang indah. Dia pun meminta permisi sebentar untuk kedalam.kemudian toni pun silahkan katanya. Dia pun tergesa-gesa masuk kedalam dan lnagusng ditanya tari gimana jadi beli tidak orangnya. Belum ketemu yang tepat ni...panggilan nia.
            Terus kenapa kamu masuk...? aku grogi katanya. Aneh biasanya kamu paling suka kalau ada orang yang beli bunga kita. Iya jawab tari. Tapi yang ini lain. Nai pun bingung dan sambil membuka gorden jendela yang menutupi..kenapa?
            “enggak tau ini”, sambil berjalan dan melihat sama seperti yang dilakukan nia. Mereka pun terlibat percakapan yang panjang dan mereka masih berada di samping jendela itu. Terus nia  membuka pertanyaan. “ kamu suka ya”' tanya nia ke tari. Dijawab langsung oleh tari enggak kok.
Beneran ni timpal nia menyudutkan tari..”beneran ni”kembali jawab tari.
            Disaat mereka sedang mengobrol tiba- tiba ada suara dari luar pintu memanggil nama tari. Tari bisa bantu aku enggak. Didalam nia dan tari terdiam mereka lupa kalau hari itu ada yang berminat membeli. Kemudian  nia pun teringat dan melihat dari balik jendela, siapa ? Kata tari. Orang yang tadi jawab nia. Mereka baru ingat. Tari pun menjawab iya bentar, dia pun keluar pintu meminta maaf karena sudah meembiarkan sendiri memilih bunganya, toni menjawab “enggak apa-apa kok ri, kayaknya kamu sedang sibuk tanya toni.
            Terus toni pun bertanya kalau didalam ini apa katanya? Ini khusus replika bunga ton jawab reni. Oh begitu...boleh saya lihat pintanya. Boleh masuk saja dan lihatlah, toni pun masuk dan mengucapkan “assalamaualikum” disaat masuk. Walaikumsalam jawab nia, toni pun tertegun melihat wajah  nia yang begitu cantik dan anggun karena memakai jilbab. Nia pun membuyarkan pandangan toni, silahkan mas lihat-lihat. Oh iya terima kasih katanya.
            Dia pun melihat ditemani tari yang mulai suka dengan toni walau baru pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya, dengan menjelaskan semua produk yang ditanya toni ke tari dengan perasaan bahagia tentunya. Dia pun kemudian tertarik memilih replika bunga sebagai kado ulangtahun ibunya sebagai kado. Kemudian singkat cerita toni pun berpamitan karena sudah menemukan  apa yang ia cari.
            Hari-hari dilalui nia dan tari dengan rasa suka cita, pada saat itu nia yang berjaga sendiri karena tari ibunya sakit sehingga dia tidak masuk kerja selama kurang lebih dua minggu. Toni pun sering bermain dan bercanda baik dengan nia maupun tari, sebenarnya toni suka dengan nia dan pada suatu hari toni dengan persaan gemetarnya ingin menyatakan cintanya ke nia melalui tari dia pun mengucapkannya dengan terbata-bata. nia aku boleh tanya sesuatu enggak katanya, boleh jawab nia.
Mau tanya apa? Toni pun langsung mengutaraka hatinya dan nia pun tersentak kaget bukan main.
            Terus nia dengan perasaan hatinya mengatakan sebenarnay dia juga sayang dan cinta namun, dia rela berkorban demi cintanya untuk sahabatnya yakni tari. Nia tidak mau membuat hati tari tersakiti karena masalah ini. Seingga dijelasknalah bahwa tari juga suka dan cinta pada toni. Pada saat itu ada anak kecil datang dengan terbata bata, dan itar bertanya ada apa? Ini mbak saya disuruh nenek mbak nia menyampaikan berita mbak nia masuk rumah sakit.
            Mendengar berita itu tari dan toni segera membantu menutup tempat jualan bunganya nia, dan sampailah ke rumah sakit bahwa nia  mendapat diagnosa dokter mengidap penyakit kanker ganas, tari pun lemas mendengarnya bahwa sahabtnnya sakit yang tidak terasa...
            pada saat berkumpul memutari nia, nia pun terbangun dan menyampaikan maaf kepada semuanya baik itu neneknya, sahabatnya maupun dengan toni yang mencintainya. Dia pun menjelaskan kepada tari bahwa mereka tidak menjalin kasih mereka hanya saling suka satu sama lain. Maka dipanggillha tari sahabat kariibnya untuk duduk disebelah nia, tari tak kuasa menahan tetesan air mata melihat keteguhan hati nia. Kemudia nia memegang tangan tonni dan menngandengkannya dengan tangan tari, dan ia menginginkan satu permintaan kepada sahabatnya agar mereka berdua menjalin cinta, nia yakin toni dapat melupakan nia dan menggantinya dengan tari sahabat karibnya. Setelah toni dan tari berjanji, nia dengan tenang meninggalkan mereka semua kealam yang abadi. Semua sedih dan semua menangis....
                       

Sunday, June 12, 2011

KOPASSUS

KOPASSUS - TOP ELITE SPECIAL FORCES IN THE WORLD
Discovery Channel Military edisi Tahun 2008 pernah membahas tentang pasukan khusus terbaik di dunia. Seluruh pasukan khusus didunia dinilai kinerjanya dengan parameter menurut pendapat dari berbagai pengamat bidang militer dan ahli sejarah. Posisi pertama di tempati SAS (Inggris), peringkat kedua MOSSAD (ISRAEL) lalu peringkat ketiga adalah KOPASUS (Indonesia).Narator dari Discovery Channel Military menjelaskan mengapa pasukan khusus dari amerika tidak masuk peringkat terhormat. Itu karena mereka terlalu bergantung pada peralatan yang mengusung teknologi super canggih, akurat dan serba digital. Pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu. Termasuk didalamnya kemampuan bela diri, bertahan hidup, kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap, dan lain2nya. Kemampuan yang tidak terlalu mengandalkan teknologi canggih dan Skill di atas rata - pasukan luar Elit luar negeri lainnya menjadi nilai plus dari KOPASSUS.Itu pula yang menimbulkan anggapan 1 prajurit KOPASSUS setara dengan 5 prajurit reguler
Mungkin karena itu pula kenapa sekitar Tahun 90-an Amerika Serikat keberatan dan Australia ketakutan ketika Indonesia akan memperbesar jumlah anggota Kopassus.
Sniper Kopasus
Pasukan Infanteri Kopasus
Sebagian Kecil prestasi dan Kiprah Kopassus

1. Kopasus juga juara satu sniper dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasific Desember 2006. Dengan hanya mengandalkan senjata buatan Pindad! Nomor 2-nya SAS Australia

2. Kopasus menempati urutan 2 (dari 35) dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer (intelijen - pergerakan - penyusupan - penindakan) pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina Austria. Nomor satunya Delta Force USA.

3. Negara-negara afrika utara hingga barat sekarang memiliki acuan teknik pembentukan dan pelatihan pasukan elite mereka. 80% pelatih mereka dari perwira-perwira Kopasus

4. Pasukan Paspampres Kamboja adalah pasukan Elit yang di latih oleh Kopassus

5. Pada perang Vietnam , para tentara Vietkong meniru strategy KOPASSUS dalam berperang melawan Amerika Serikat yang mengakibatkan kekalahan Pasukan Amerika yang mempunyai persenjatan canggih dan lengkap. Kekalahan ini membuat Amerika serikat malu di mata dunia
KOPASUS in ACTION

MAJU TERUS KOPASUS!!
BANGSA INDONESIA MENDUKUNGMU!!!

Mesjid-mesjid penuh Mukjizat

KeAgungan dan Kebesaran Illahi kembali terlihat di di ujung Banda. Tsunami menggulung Aceh, namun di setiap musibah ada suatu keajaiban dan mukjizat Alloh SWT. Salah satunya bangunan-bangunan mesjid yang masih tetap berdiri meski sekitarnya porak-poranda. 
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [QS. Al- Fushshilat]
 
 

Kebesaran Alloh SWT

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"
[QS. Al- Fushshilat]
Tidak semua peristiwa alam dapat dijelaskan dengan akal. Dalam koleksi ini disajikan keajaiban alam. Koleksi ini dikumpulkan sedikit demi sedikit dari internet. Jika anda merasa dapat memberikan tambahan keterangan pada koleksi di bawah ini, silahkan beri komentar anda !. Mohon bersabar apabila agak lambat, karena fotonya ditampilkan semuanya.. :)
Gambar lainnya bisa dilihat di http://www.islamcan.com/miracles/index.shtml 

LEBAH YANG MENULIS "ALLAHU"
(Those who are familiar with Arabic will easily be able to identify what this beehive spells - "Allahu")

Akan terlihat dengan jelas lafal "Allah" pada batu permata tersebut bila disinari dengan cahaya

Mawar Merah di Angkasa
"Selain itu (sungguh ngeri) ketika langit pecah belah lalu menjadilah ia mawar merah, berkilat seperti minyak"
(Ar-Rahman: 37)
Gambar di atas adalah gambar ledakan bintang di angkasa yang diperoleh NASA dengan Teleskop yang sangat canggih.
Kejadian tersebut membuktikan kebenaran Al-Quran yang diturunkan 14 abad yang lalu pada surah Ar-Rahman di atas




POHON YANG SEDANG RUKU
This is a recently discovered phenomenon in a forest near Sidney. As you can see, the bottom half of the tree trunk is bowed in such a way that it resembles a person in a posture of Islamic prayer - the 'ruku'. Looking closer you can see the 'hands' resting on the knees. the most amazing thing is that the 'man' is directly facing the Kaaba, Mecca which is the direction Muslims all over the world face when in prayer.

Sesungguhnya ALLAH Maha berkuasa dan dapat menjadikan apa saja yang pernah ataupun tidak pernah terfikir oleh manusia.Ini merupakan keajaiban alam ciptaan ALLAH.

THE FISH TESTIFIES THE PROPHET (S.A.W)
The story of the fish began when Mr. Goerge Wehbi, a Christian Lebanese, was practicing his fishing hobby, in Dakar Senegal (the Capital of West Africa). He caught many fish. When the went home his wife saw among them a strange fish about 50cm length, with some arabic writing on it. He took it to Sheikh al-Zein, who read clearly what was writen in a natural way. That could not be done by a human being, but rather a Godly Creation which the fish was born with. He read "God's Servant" on its belly and "Muhammad" near its head, and "His Messenger" on its tail

LAA ILAA HA ILLALLAH WRITEN IN BRANCHES
One brother on Germany wrote and sent this photo. "The branches clearly say in Arabic that- There is no god but Allah. This is said to be a scene on a piece of cultivated farmland in Germany. Many Germans have been said to have embraced Islam upon seeing this miraculous sight and that the German government put steel fences around the part of the farm to prevent people from visiting and witnessing this miraculous site"
Lapadz "Alloh" yang terbentuk di telingan seorang bayi
Awan yang membentuk Lapadz "Alloh", kejadian ini diabadikan oleh seseorang di Mekkah
MEKKAH BERKILAU --Ini adalah hasil pencitraan dari IKONOS Satelite milik Space Imaging Inc, AS. Masjidil Haram yang 'diintai' oleh AS pada 31 Oktober 1999 itu menampilkan fenomena menakjubkan. Terlihat di gambar hanya bagian Masjidil Haram saja yang berkilau sementara bangunan di sekitarnya tampak lebih gelap. Subhanallah. (NASA Astronomy Picture of The Day) (sumber : http://www.spaceimaging.com/gallery/ioweek/archive/01-12-09/index.htm)

MOSQUE STILL STANDS AFTER EARTQUAKE IN TURKEY
A mosque still stands amidst the rubble of collapsed buildings in this aerial view of a neigborhood in the western Turkish town of Golcuk, 60 miles east of Istanbul, August 19, 1999. The death toll from western Turkey's worst recorded eartquake surpassed 6,000, as hope waned of finding any of the thousands still missing under the mountains of rubble.



Menurut pemiliknya kalau dilihat dari dekat Gambar di atas
menunjukkan kalimah "Lailahaillah" terbentuk pada seekor ikan

sumber asli bisa dilihat di sini

HUKUM MUSIK DAN LAGU

"Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan." (Luqman: 6)
Sebagian besar mufassir berkomen-tar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan Al Basri berkata,ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu. Allah berfirman kepada setan:
"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu."
Add caption
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda:
"Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari dan Abu Daud)
Dengan kata lain, akan datang suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.
Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, serta berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).
"Lonceng adalah nyanyian setan ." (HR. Muslim)
Padahal di masa dahulu mereka hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menun-jukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga ber-arti menyerupai orang-orang nasrani, di mana lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.
Nyanyian di masa kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini di adakan dalam berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas lagu-lagunya berbicara tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada problematika biologis, sehingga membangkitkan nafsu birahi terutama bagi kawula muda dan remaja. Pada tingkat selanjutnya membuat mereka lupa segala-galanya sehingga terjadilah kemaksiatan, zina dan dekadensi moral lainnya.
Lagu dan musik pada saat ini tak sekedar sebagai hiburan tetapi sudah merupakan profesi dan salah satu lahan untuk mencari rizki. Dari hasil menyanyi, para biduan dan biduanita bisa mem-bangun rumah megah, membeli mobil mewah atau berwisata keliling dunia, baik sekedar pelesir atau untuk pentas dalam sebuah acara pesta musik.
Tak diragukan lagi hura-hura musik --baik dari dalam atau manca negara-- sangat merusak dan banyak menimbul-kan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik,selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari akal apapun yang penting bisa masuk stadion, akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut. Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.
Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Ta'ala yang menciptakannya, ini adalah fitnah yang amat besar.
Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun tidak akan lepas dari kemungkaran. Bahkan di antara sya'ir lagunya ada yang berbunyi:
"Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya ... Ya Muhammad inilah Arsy, terimalah ..."
Bait terakhir dari sya'ir tersebut adalah suatu kebohongan besar terhadap Allah dan RasulNya, tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengkultusan terhadap diri Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam, padahal hal semacam itu dilarang.
"Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)
Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik :
Di antara beberapa langkah yang dianjurkan adalah:
Jauhilah dari mendengarnya baik dari radio, televisi atau lainnya, apalagi jika berupa lagu-lagu yang tak sesuai dengan nilai-nilai akhlak dan diiringi dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur'an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:
"Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah."( HR. Muslim)
"Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)
Membaca sirah nabawiyah (riwayat hidup Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam) , demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.
Nyanyian yang diperbolehkan:
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan yaitu:
Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A'isyah:
"Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: "...dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR. Bukhari)
Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan." (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.
Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do'a. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyenandungkan sya'ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:
"Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."
Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:
"Kita telah membai'at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad."
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan sya'ir Ibnu Rawahah yang lain:
"Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya." Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, ... kami menolaknya." (Muttafaq 'Alaih)
Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memper-baiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tomenolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.
Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasul Shallallahu 'Alahih Wasallam tidak memakainya, demikian pula halnya dengan para sahabat beliau Radhiallahu 'Anhum Ajma'in.
Orang-orang sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid'ah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR. Turmudzi, beliau berkata: hadits hasan shahih).
__________________________________
Sumber dari: Rasa'ilut Taujihat Al Islamiyah, 1/ 514 - 516.
Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

KEUTAMAAN HARI JUM'AT

Segala puji bagi Allah Rab semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah y, beserta para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqomah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman..
Wahai kaum muslimin ....Allah l telah menganugerahkan bermacam-macam keistimewaan dan keutamaan kepada umat ini. Diantara keistimewaan itu adalah hari Jum'at, setelah kaum Yahudi dan Nasrani dipalingkan darinya.
Abu Hurairah zmeriwayatkan, Rasulullah bersabda:
"Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum'at, Sabtu dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk". (HR. Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: "Hari ini dinamakan Jum'at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam'u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah l berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (QS. 62:9)
Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum'at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang. Al-Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum'at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum'at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma'ad: 1/398).
KEUTAMAAN HARI JUM'AT
1. Hari Terbaik
Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada: "Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at
2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a.
Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda: " Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)

Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: "Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma'ad Jilid I/389-390).
3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab z menjelaskan: "Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".(Mauquf Shahih)
4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga.
Sahabat Anas bin Malik z dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at".
5. Hari besar yang berulang setiap pekan.
Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum'at hendaklah mandi terlebih dahulu ......". (HR. Ibnu Majah)
6. Hari dihapuskannya dosa-dosa
Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).
7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.
Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah". (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).
8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:"Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).

Monday, June 06, 2011

Suka-Hamdi the winner

Ditulis oleh nid/usa   
Senin, 06 Juni 2011 14:00
Hasil Quick Count LSKP-LSI dan Desk Pilkada Pemkab Tebo
JAMBI - Pasangan Yopi Muthalib-Sri Sapto Edy (Yopi-Sapto) tidak bisa mengulang sejarah kemenangan pada Pemilukada 10 Maret lalu. Dalam pemilukada ulang Tebo, kemarin (5/6), hasilnya berbalik arah. Berdasarkan penghitungan cepat (quick count) Lingkaran Survey Kebijakan Public (LSKP-LSI Group), dan Desk Pilkada Pemkab Tebo, pasangan nomor urut 3 yang diusung PDIP, Partai Demokrat, PAN, dan Hanura, kalah dari seterunya, pasangan Sukandar-Hamdi Rahman (Suka-Hamdi).
Hasil quick count yang dirilis LSKP-LSI, pasangan Suka-Hamdi meraih 50,59 persen suara. Sementara Yopi-Sapto, 45,59 persen. Sedangkan Ridham Priskap-Eko Saputra (Ri-Ko) hanya meraih 3,82 persen suara. Sementara itu, data dari Desk Pilkada Pemkab Tebo, hingga pukul 19.00, kemarin, Suka Hamdi meraih 75.262 suara (49,48 %), Yopi-Sapto meraih 71.090 suara (3,78 %) dan Ridham Priskap-Eko Putra meraih 5.747 suara (3,78 %). (lihat info grafis)
Hasil quick count pemilukada ulang Tebo itu diumumkan dua lembaga tersebut di tempat berbeda. LSKP-LSI membeberkannya kepada wartawan di Hotel Wiltop, Kota Jambi, kemarin sore (5/6). Sedangkan Desk Pilkada Tebo merilisnya di Kantor Badan Kenbangpolinmas Tebo, pukul 19.00, kemarin.
Direktur LSKP Sunarto Ciptoharjono mengatakan, unggulnya pasangan Suka-Hamdi tidak terlepas dari keberhasilan tim membuktikan ke masyarakat Tebo jika pemilukada lalu banyak terjadi kecurangan. Seperti diketahui, pemilukada ulang ini merupakan tindakan lanjut dari keputusan mahkamah konstitusi (MK) nomor 33/PHPU.D-IX/2011. 
Putusan MK ini membatalkan kemenangan Yopi-Sapto pada Pemilukada 10 Maret lalu, karena dinyatakan terbukti melakukan kecurangan secara terstruktur, sistematis dan massif. Untuk diketahui, pada pemilukada sebelumnya, Yopi-Sapto unggul dengan perolehan suara 46,88 persen. Sementara Suka-Hamdi 45,23 persen, dan Ridham-Eko 7,89 persen.
Menurut hasil quick count LSKP, pasangan Suka-Hamdi menang telak di zona 2 (Rimbo Bujang, Rimbo Ilir dan Rimbo Ulu. “Ada migrasi suara di daerah basis, sehingga menambah poin kemenangan sekitar 1 persen,” kata Sunarto.
Selain menguasai suara di zona 2, pasangan yang diusung Golkar, PKS, PBR, PBR, PBB, PDP, PNBK, dan PPNUI ini juga bisa bersaing ketat dengan pasangan Yopi-Sapto di zona 1, yang meliputi Tebo Tengah, Tebo Ilir, Sumay, Tengah Ilir dan Maura Tabir. Seperti diketahui, zona 1 merupakan basis suara Yopi-Sapto.
Begitu juga di zona 3, Tebo Ulu, VII Koto, VII Koto Ilir, dan Serai Serumpun. Meskipun Yopi menang telak, tapi pasangan Suka-Hamdi tetap bisa menaikkan suara di basis lawannya ini. “Kunci kemenangan Suka-Hamdi adalah berhasil memperbesar kemenangan di zona 2 sebagai daerah basisnya, dan memperkecil kekalahan di zona 1 dan 3 yang merupakan basis lawan,” jelasnya.
Keberhasilan ini, menurut Sunarto, tidak lepas dari kepiawaian Suka-Hamdi mengemas isu bahwa pada pilkada sebelumnya terjadi penuh kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif. “Kami turut membantu pasangan Suka-Hamdi dalam menentukan strategi untuk memenangkan pemilukada ulang ini,” ujar Sunarto.
Lantas, apakah pemilukada ulang kali ini tidak ada kecurangan? Menurut Sunarto, sekecil apa pun tetap ada kecurangan. Hanya saja, lanjut dia, setelah adanya putusan MK yang memerintahkan pemilukada ulang, masing-masing pihak lebih bisa menahan diri. Paling masing-masing kandidat saling intip. “Kandidat tidak berani secara terang-terangan untuk melakukan kecurangan. Masing-masing pihak lebih berhati-hati,” katanya.
Sunarto juga mengungkapkan jumlah sampel yang diambil dalam quick count sebanyak 250 dan 668 Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sampel tersebut tersebar secara proporsional di 12 kecamatan di Tebo dengan metode multistage random sampling dengan tingkat kesalahan 1%. Sementara tingkat partisipasi pemilih (voter’sturn out) mencapai 80%, dengan angka golput 20% dari jumlah populasi pemilih sebanyak 207,598 suara dengan 668 TPS. 
Dia menambahkan, quick count ini bertujuan hanya menjawab keingintahuan masyarakat terhadap hasil pemilu secara cepat. “Quick count ini dapat dijadikan sebagai data pembanding sekaligus menjalankan fungsi kontrol terhadap data resmi. Jadi, kalau sampai (perhitungan resmi KPUD Tebo, red) angkanya terpaut jauh, pasti ada salah satu yang salah. Bisa jadi ada kecurangan-kecurangan,” kata Sunarto.
Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpolinmas Tebo H Bajuri mengatakan, perhitungan cepat desk pilkada hanya untuk data pembanding, bukan untuk menetapkan siapa pemenang Pemilukada Tebo. Hasil resmi tetap melalui KPU. “Data kita hanya untuk konsumsi pemerintah, bukan untuk memenangkan salah satu kandidat,” katanya.
Data pembanding lain ada juga hasil penghitungan cepat yang dilakukan sebuah lembaga yang minta tidak dipublikasikan namanya. Hasilnya juga menempatkan pasangan Suka-Hamdi sebagai pemenang dengan perolehan suara 73.971 (52,28%). Disusul Yopi-Sapto 62.666 (44,29%), dan Ridham-Eko 4.841 (3,42%).
Sukandar Bersyukur, Sapto Tunggu Pleno KPUD
Berdasarkan penghitungan cepat (quick count), kemenangan pasangan Sukandar-Hamdi pada Pemilukada ulang Tebo, kemarin (5/6), tidak terlepas dari keberhasilan mereka meningkatkan perolehan suara di lima kecamatan yang menjadi basis suaranya. Kelima kecamatan itu, Rimbo Bujang, Rimbo Ulu, Rimbo Ilir, dan Rimbo Ulu, Tebo Ilir serta Tengah Ilir.
Pada Pemilukada 10 Maret lalu, pasangan nomor urut 1 ini juga menang di lima kecamatan ini. Tapi, pada pilkada ulang kemarin, selain menang, perolehan suara mereka di lima daerah ini juga meningkat dari sebelumnya. Sedangkan suara rivalnya, Yopi-Sapto malah berkurang.
Di Kecamatan Tengah Ilir, misalnya. Berdasarkan quick count Desk Pilkada Pemkab Tebo, Suka-Hamdi meraih 5.753 suara, meningkat dari Pemilukada 10 Maret lalu 5.410. Lalu, Ridham-Eko 283 (Pilkada 10 Maret, 515 suara), dan Yopi-Sapto 4.136 (4.635 suara). Kemudian di Tebo Ilir, suara Suka-Hamdi juga meningkat dari 5.502 pada Pemilukada 10 Maret menjadi 6.277  pada pemilukada ulang, kemarin.
Sementara suara Ridham-Eko menurun dari 2.999 pada Pemilukada 10 Maret menjadi 953 suara. Separti Sukandar, perolahan suara Yopi-Sapto di daerah ini juga meningkat dari 5.166 menjadi 5.793.  
Lalu, di Rimbo Bujang, Suka-Hamdi meraih 20.114 suara, Pilkada 10 Maret lalu 20.346 suara. Ridham-Eko 714 (Pilkada 10 Maret 896 suara) dan Yopi-Sapto 10.925 (Pilkada 10 Maret 11.918 suara). Di Rimbo Ilir, suara Suka-Hamdi  juga naik dari 7.150 (Pilkada 10 Maret) menjadi 7.112 suara. Sementara Ridham-Eko dan Yoipi-Sapto menurun. Begitu juga di Rimbo Ulu.
Tidak itu saja, Suka-Hamdi juga berhasil mencuri suara di beberapa kecamatan yang menjadi basis Yopi-Sapto dan Ridham-Eko. Di antaranya, di Tebo Tengah. Pada Pilkada 10 Maret lalu, Suka-Hamdi meraih 7.044 suara. Jumlah tersebut meningkat pada pemilukada ulang kemarin menjadi 7.387 suara.
Kemudian, di Kecamatan Serai Serumpun. Sebelumnya Suka-Hamdi meraih 1.371 suara. Kemarin meningkat menjadi 1.504 suara. Sedangkan rivalnya Yopi-Sapto malah menurun, dari 2.556 (pemilukada 10 Maret) menjadi 2.384.  Begitu juga di Sumay, Tebo Ulu, Tujuh Koto Ilir dan Kecamatan Tujuh Koto.
Tidak hanya desk pilkada, berdasarkan quick count Lingkaran Survei Kebijakan Publik – Lingkaran Survei Indonesia Grup (LSKP-LSI Grup)   juga demikian. Dari data yang mereka lansir, perolehan suara Suka-Hamdi meningkat 5,16 persen dari hasil Pilkada 10 Maret lalu. Yakni dari 45,43 persen menjadi 50,59 persen.
Sementara dua rivalnya malah menurun. Pada 10 Maret lalu, Yopi-Sapto meraih 46,66 persen suara. Sedangkan pada pilkada ulang kemarin, meraih 45.59 persen atau turun 1,07 persen. Begitu juga dengan Ridham-Eko, dari 7,91 persen menjadi 3,82 persen (turun 4,09 persen).
Sukandar mengaku sangat bersyukur atas perolehan suara yang mereka raih. ‘’ Alhamdulillah untuk sementara kami unggul. Bagi saya, kemenangan ini bukan lah kemenangan Suka-Hamdi, tapi kemenangan rakyat Tebo. Saya berpesan kepada seluruh tim dan simpatisan agar tidak terlalu terbawa euforia kemenangan, karena kita masih menunggu pleno KPUD,’’ katanya dalam jumpa pers di kediamannya, malam tadi.
Ungkapan serupa juga dilontarkan Hamdi. ‘’ Kemenangan ini adalah buah kerja keras tim dan tidak lepas dari dukungan seluruh masyarakat Tebo yang sudah capek dengan pilkada. Alhamdulillah pilkada berjalan dengan baik,’’ katanya,  
Sementara itu, Sri Sapto Edy ketika dihubungi mengaku masih menunggu hasil pleno KPUD. Dia mengaku masih optimis bisa meraih suara terbanyak. Karena penghitungan cepat hasilnya masih berubah-ubah.  ‘’ Sejauh ini saya masih optimis dapat meraih suara terbanyak. Terlepas apapun hasilnya nanti, saya belum bisa berkomentar. Tunggu saja hasil pleno KPUD,’’ katanya saat dihubungi via ponsel.

Warga Tak Terdaftar Ikut NyoblosKecurangan masih saja ditemukan pada pemilukada ulang Tebo, kemarin (5/6). Salah satunya, warga tak terdaftar ikut menyoblos. Peristiwa ini terjadi TPS 2, Desa Bandaro Rampak, Kecamatan Tebo Tengah.  Jumlah pemilih yang tidak terdaftar ikut nyoblos itu sebanyak sembilan orang.
Kecurangan ini ditemukan tim Suka-Hamdi dan langsung dilaporkan ke panwas setempat. Menurut keterangan pemilih yang tak terdaftar tersebut, mereka ikut mencoblos, karena disuruh oleh seseorang atas nama Parman. “Parman yang meminta kami memilih, karena kami sudah satu tahun tinggal di sini (Bandaro Rampak),” kata Ikhsan, si tersangka didampingi rekannya saat ditemui di lokasi TPS 2.
Menurut Ikhsan dan rekan-rekanya, saat dianjurkan memilih, dia sama sekali tidak diberi imbalan apapun. Namun mereka mengaku dianjurkan untuk memilih salah satu kandidat. “Kami disuruh pilih nomor 3, jadi saat mencoblos tadi ya, coblos nomor tiga,” katanya.
Warga asal Jawa itu mengatakan, mereka datang ke TPS menggunakan kartu pemilih warga yang sudah tidak tinggal di desa tersebut. Terpisah, Parman yang disebut-sebut tersangka, saat dikonfirmasi mengakui, dialah yang menganjurkan sembilan orang warga yang tidak terdaftar tersebut mencoblos. Dia beralasan, dari informasi yang ia dapat, warga yang telah tinggal satu tahun bisa memilih, walaupun tidak terdaftar dalam DPT. “Saya tidak ada menganjurkan mereka pilih nomor tiga,” terangnya.
Ketua TPS 2 Bandaro Rampak Solihin mengatakan, mereka mengizinkan sembilan warga yang tidak terdaftar di DPT memilih, karena melihat mereka membawa undangan. “Undanganya ada nama pemilih lama dan nama mereka,” katanya terlihat kebingungan menjawab pertanyaan wartawan.
Sementara itu, panwas lapangan, Syahyar mengatakan, warga yang tidak terdaftar dalam DPT ikut memilih adalah merupakan suatu temuan. Dia mengaku sudah melaporkan kepada panwas kecamatan.
“Dari keterangan warga yang memilih tersebut, mereka dianjurkan memilih pasangan nomor tiga. Jadi berapa perolehan suara pasangan nomor tiga nantinya akan dikurang sejumlah warga yang memilih tersebut,” katanya.
Tiga Kandidat Menang di TPS Masing-masing
Di bagian lain, tiga kandidat yang menggunakan hak suaranya, kemarin (5/6), menang di TPS mereka masing-masing. Sukandar yang memilih di TPS 12, Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Tebo Tengah meraih 229 suara dari jumlah DPT 349 pemilih dan suara sah sebanyak 314 suara serta 1 suara mutung. Disusul Yopi-Sapto 84 suara dan Ridham-Eko hanya satu suara.
Begitu juga di TPS 7, Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Tebo Tengah, tempat Hamdi mencoblos. Di sana, pasangan nomor urut 1 ini meraih 134 suara dari 228 suara sah (425 DPT). Disusul Yopi-Sapto 90 suara, dan Ridham-Eko empat suara.
Sementara pasangan Yopi-Sapto menang dari dua calon lainnya di TPS 18, Kelurahan Tebing Tinggi.  Di TPS dengan jumlah DPT sebanyak 133 dan suara sah sebanyak 80 suara ini, Yopi-Sapto meraih 42 suara. Disusul Suka-Hamdi 38, dan Ridham-Eko tidak mendapat suara.
Pasangan nomor urut 3 ini juga menang di TPS 9 Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Tebo Tengah, tempat Bupati Tebo Madjid Mu’az menyoblos. Yopi-Sapto meraih 128 suara. Disusul Suka-Hamdi 113, dan Riddham-Eko hanya meraih 11 suara dari suara sah 252 (DPT 410, suara tidak sah 4).(nid/usa)
 

Psycholinguistics

FAKTOR RISIKO GANGGUAN BERBAHASA PADA ANAK

dr Ida Narulita dewi

Pendahuluan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam  struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.1
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak.  Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter.2 Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. Kemampuan motorik dan kognisi  berkembang sesuai tingkat usia anak, demikian juga pemerolehan bahasa bertambah melalui proses perkembangan mulai dari bahasa pertama, usia pra sekolah dan usia sekolah di mana bahasa berperan sangat penting dalam pencapaian akademik anak.2,3
Perkembangan bahasa, pada usia bawah lima tahun (balita) akan berkembang sangat aktif dan pesat. Keterlambatan bahasa pada periode ini, dapat menimbulkan berbagai masalah dalam proses belajar di usia sekolah.4 Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psikososial.5
Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia prasekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai tingkat perkembangan bahasa anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut saat memasuki usia sekolah. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah.6 Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa berkaitan dengan intelegensi dan membaca di kemudian hari.7
Gangguan bicara pada usia prasekolah, diperkirakankan 5% dari populasi normal dan 70% dari kasus tersebut ditangani oleh terapis (Weiss et al. 1987). Gangguan perkembangan bicara sangat bervariasi dan masih banyak timbul kontroversi khususnya mengenai penentuan klasifikasi sesuai dengan etiologi atau manifestasi klinisnya. Hal penting yang menjadi perhatian para klinisi adalah mengenai faktor resiko yang mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa. Faktor resiko yang paling sering dilaporkan adalah riwayat keluarga yang positif, gangguan pendengaran, pre dan perinatal problem meliputi kelahiran preterm dan berat badan lahir rendah serta faktor psikososial. 
 Faktor resiko yang dipengaruhi oleh kondisi biologi dan lingkungan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan perkembangan (Brooks-Gunn, 1990). Mengenali berbagai faktor resiko yang berkaitan dengan disabilitas perkembangan menjadi perhatian utama, terutama faktor-faktor yang diyakini dipengaruhi oleh kondisi biologis dan lingkungan pada fase awal dari suatu proses perkembangan. Faktor biologis yang beresiko negatif pada perkembangan adalah prematuritas, berat badan lahir rendah, komplikasi perinatal. Sedangkan faktor resiko dari lingkungan meliputi status sosioekonomi yang rendah, hubungan tetangga yang buruk, psikopatologi orang tua.     Mengenali lebih dini faktor resiko pada anak merupakan faktor penting untuk menjamin bahwa mereka ditempatkan dalam bentuk program remedial yang tepat untuk meminimalkan atau mengurangi dampak dari faktor resiko tersebut. Peran utama penelitian tersebut adalah melakukan intervensi dini dan pendidikan khusus yang memperlihatkan bagaimana pendekatan suatu epidemiologi perkembangan sehingga dapat memberikan informasi bagi upaya pencegahan.
Deteksi dini dan penanganan awal terhadap emosi, kognitif atau masalah fisik adalah hal yang sangat penting. Orang-orang dewasa ini khususnya orang tua, perawat anak sehari-hari, atau dokter anak sering kali gagal menemukan indikator awal dari disabilitas.  Beberapa anak tidak memperoleh penanganan dengan baik sampai masalah perkembangan itu menjadi sesuatu yang tidak dapat ditangani atau berdampak secara signifikan terhadap hal-hal lain.
Epidemiologi perkembangan adalah suatu metodologi pendekatan yang bisa sangat membantu mengidentifikasi faktor-faktor resiko dini untuk masalah-masalah anak, seperti menentukan angka prevalensi dari masalah kesehatan di masyarakat. Beberapa penelitian menggunakan epidemiologi perkembangan untuk mengenali anak pada saat lahir, siapa yang paling beresiko nantinya mengalami gangguan perkembangan. Berbagai penelitian tersebut memperkenalkan faktor-faktor spesifik yang dapat meningkatkan resiko seorang anak mengalami gangguan perkembangan, tetapi penelitian tersebut tidak meneliti outcome pada anak-anak prasekolah atau tidak menggunakan skore penilaian bahasa yang standart untuk mengidentifikasi anak-anak yang beresiko.
Bicara dan bahasa pada Anak
Komunikasi adalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau simbol.5 Berbahasa itu sendiri merupakan proses yang kompleks dan tidak terjadi begitu saja. Setiap individu berkomunikasi lewat bahasa memerlukan suatu proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana bahasa bisa digunakan untuk berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.1, 12
Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa  dapat juga diekspresikan melalui  tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.1
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah.12
Penyebab keterlambatan bicara sangat  banyak dan luas, gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat, mulai dari yang bisa membaik hingga yang sulit untuk membaik. Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang sering  dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara golongan ini biasanya ringan dan hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak. Pada usia tertentu terutama setelah usia 2 tahun akan membaik. Bila keterlambatan bicara tersebut bukan karena proses fungsional maka gangguan tersebut harus lebih diwaspadai karena bukan sesuatu yang ringan.
Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut. Bila keterlambatan bicara tersebut nonfungsional maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi pada anak tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut.1

Definisi
Kata bahasa berasal dari bahasa latin “lingua” yang berarti lidah. Awalnya pengertiannya hanya merujuk pada bicara, namun selanjutnya digunakan sebagai bentuk sistem konvensional dari simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi.12
American Speech-Language Hearing Association Committee on Language mendefinisikan bahasa sebagai : suatu sistem lambang konvensional yang kompleks dan dinamis yang dipakai dalam berbagai cara berpikir dan berkomunikasi.13
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, bahasa didefinisikan sebagai : suatu sistem lambang bunyi yang  arbitrer, yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja bersama, berinteraksi dan  mengidentifikasikan diri.14,15 Kamus bahasa Inggris juga memberi definisi yang sama tentang bahasa.16 
Terdapat perbedaan mendasar antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan yang menunjukkan ketrampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi. Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik.14,16
Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja ia dapat mengucapkan satu kata dengan jelas tetapi tidak dapat menyusun dua kata dengan baik, atau sebaliknya seorang anak mungkin saja dapat mengucapkan sebuah kata yang sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata-kata tersebut dengan benar untuk menyatakan keinginannya.17
Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih.17  Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, suara, kelancaran bicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung proses tersebut seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan.18
Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai beberapa huruf, sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan cara bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume atau kualitas suara.18
Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (contohnya kejang).18-20
Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir dan laring. Terdapat kecendrungan adanya riwayat gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.18,19
Epidemiologi
Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia prasekolah. Hampir sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-16 tahun. 1,21
Pada anak-anak usia 5 tahun, 19% diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% keterlambatan berbicara, 4,6% keterlambatan bicara dan bahasa, dan 6% keterlambatan bahasa). Gagap terjadi 4-5% pada usia 3-5 tahun dan 1% pada usia remaja. Laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Sekitar 3-6% anak usia sekolah memiliki gangguan bicara dan bahasa tanpa gejala neurologi, sedangkan pada usia prasekolah prevalensinya lebih tinggi yaitu sekitar 15%. Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi daripada anak dengan riwayat sosial ekonomi menengah ke atas.1,21
  Studi Cochrane terakhir telah melaporkan data keterlambatan bicara, bahasa dan gabungan keduanya pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Prevalensi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada anak usia 2 sampai 4,5 tahun adalah 5-8%, prevalensi keterlambatan bahasa adalah 2,3-19%.22 Sebagian besar studi melaporkan prevalensi dari 40% sampai 60%.7,22,23 
Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum pernah diteliti secara luas.1,24 Kendalanya dalam menentukan kriteria keterlambatan perkembangan berbahasa. Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun 2006, dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10,13% anak terdiagnosis keterlambatan bicara dan bahasa.25  Penelitian Wahjuni tahun 1998 di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat menemukan prevalensi keterlambatan bahasa sebesar 9,3% dari 214 anak yang berusia bawah tiga tahun.26
Neurolinguistik         
Sistem Saraf Pusat
Pada sebagian besar manusia area bahasa terletak pada hemisfer serebri kiri. Terdapat empat area bahasa secara konvensional yaitu dua area bahasa reseptif dan dua lainnya adalah eksekutif yang menghasilkan bahasa. Dua area reseptif berhubungan erat dengan zona bahasa sentral. Area reseptif berfungsi mengatur persepsi bahasa  yang diucapkan, yaitu area 22 posterior yang disebut area Wernicke dan girus Heschls (area 41 dan 42). Area yang mengatur persepsi bahasa tulisan menempati girus angulus (area 39) pada lobus parietal inferior anterior terhadap area reseptif visual. Girus supra marginal yang terletak di antara pusat bahasa auditori dan visual dan area temporal inferior yang terletak di anterior korteks asosiasi visual kemungkinan adalah bagian dari zona bahasa sentral juga. Area-area ini terletak pada pusat integrasi untuk fungsi bahasa visual dan auditori.27
Area Broadman 44 dan 45 disebut area Broca dan merupakan bagian eksekutif utama yang bertanggung jawab terhadap aspek motorik bicara. Secara visual kata-kata yang diterima diekspresikan dalam bentuk tulisan  melalui area tulisan Exner.27 Area sensori dan motori terhubungkan satu dengan yang lain melalui fasikulus arkuatum yang melewati ismus lobus temporal kemudian memutari ujung posterior fisura silvii, sambungan lainnya melalui kapsula eksterna nukleus lentikular.27        
Area penerimaan visual dan somatosensori terintegrasi pada lobus parietal, sedangkan penerimaan auditori terletak di lobus temporal. Serat pendek, menghubungkan area Broca dengan korteks rolandi bawah yang menginervasi organ bicara, otot bibir, lidah, farings dan larings. Area menulis Exner juga terintegrasi dengan organ motor untuk otot tangan. Area bahasa perisylvian juga terhubungkan dengan striata dan thalamus dan area korespondensi pada hemisfer non dominan melalui korpus kalosum dan komisura anterior.27
Tiga fungsi dasar otak adalah fungsi pengaturan, proses dan formulasi.Fungsi pengaturan bertanggung-jawab untuk tingkat energi dan tonus korteks secara keseluruhan. Fungsi proses berlokasi di belakang korteks, mengontrol analisa informasi, pengkodean dan penyimpanan. Korteks yang lebih tinggi bertanggung jawab untuk memproses rangsangan sensori seperti rangsangan optik, akustik dan olfaktori. Data dari tiap sumber digabungkan dengan sumber sensori lainnya untuk dianalisa dan diformulasikan. Proses formulasi berlokasi pada lobus frontal, bertanggung jawab untuk formasi intensi dan perilaku. Fungsi utamanya adalah untuk mengaktifkan otak untuk pengaturan atensi dan konsentrasi.27
Meskipun hemisfer kiri dan kanan simetris untuk proses motorik dan sensoris, namun terdapat juga ketidaksimetrisan untuk fungsi khusus tertentu seperti bahasa. Dengan demikian, meskipun fungsinya berbeda, kedua hemisfer tersebut saling berintegrasi dan memberi informasi melalui korpus kalosum dan subkortikal lainnya. Fungsi yang menonjol dari hemisfer serebri kiri adalah sebagai fungsi dasar untuk bahasa. Teori yang paling umum mengatakan traktus kortikospinal berasal dari hemisfer kiri yang berisi lebih banyak serat dan menyilang lebih tinggi dibanding hemifer kanan. Belajar juga merupakan suatu faktor, terjadi banyak pergeseran dari kiri ke kanan (shifted sinistral). Pada sebagian anak terjadi pergeseran  ke kanan hemisfer di usia muda, dan menjadi bertangan kidal.28
Proses fisiologi bicara 
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.29
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.27,29
Pada hemisfer dominan otak atau sistem susunan saraf pusat terdapat pusat-pusat yang mengatur mekanisme berbahasa yakni dua pusat bahasa reseptif area 41 dan 42 (area wernick), merupakan pusat persepsi auditori-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman  adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif. Pusat-pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.27
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membran timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VIII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan  dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.27,29
Proses reseptif – Proses dekode    
Segera saat rangsangan auditori diterima, formasi retikulum pada batang otak akan menyusun tonus untuk otak dan menentukan modalitas dan rangsang mana yang akan diterima otak. Rangsang tersebut ditangkap oleh talamus dan selanjutnya diteruskan ke area korteks auditori pada girus Heschls, dimana sebagian besar signal yang diterima oleh girus ini berasal dari sisi telinga yang berlawanan.27,29
Girus dan area asosiasi auditori akan memilah informasi bermakna yang masuk. Selanjutnya masukan linguistik yang sudah dikode, dikirim ke lobus temporal kiri untuk diproses. Sementara masukan paralinguistik berupa intonasi, tekanan, irama dan kecepatan masuk ke lobus temporal kanan. Analisa linguistik dilakukan pada area Wernicke di lobus temporal kiri. Girus angular dan supramarginal membantu proses integrasi informasi visual, auditori dan raba serta perwakilan linguistik. Proses dekode dimulai dengan dekode fonologi berupa penerimaan unit suara melalui telinga, dilanjutkan dengan dekode gramatika. Proses berakhir pada dekode semantik dengan pemahaman konsep atau ide yang disampaikan lewat pengkodean tersebut.27
Proses ekspresif – Proses encode
Proses produksi berlokasi pada area yang sama pada otak. Struktur untuk pesan yang masuk ini diatur pada area Wernicke, pesan diteruskan melalui fasikulus arkuatum ke area Broca untuk penguraian dan koordinasi verbalisasi pesan tersebut. Signal kemudian melewati korteks motorik yang mengaktifkan otot-otot respirasi, fonasi, resonansi dan artikulasi. Ini merupakan proses aktif pemilihan lambang dan formulasi pesan. Proses enkode dimulai dengan enkode semantik yang dilanjutkan dengan enkode gramatika dan berakhir pada enkode fonologi. Keseluruhan proses enkode ini terjadi di otak/pusat pembicara.27, 29
Di antara proses dekode dan enkode terdapat proses transmisi, yaitu pemindahan atau penyampaian kode atau disebut kode bahasa. Transmisi ini terjadi antara mulut pembicara dan telinga pendengar.27,29-31 Proses decode-encode diatas disimpulkan sebagai proses komunikasi. Dalam proses perkembangan bahasa, kemampuan menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif harus berkembang dengan baik.29-31
Perkembangan bahasa pada anak usia di bawah 3 tahun 
Perkembangan bahasa sangat berhubungan erat dengan maturasi otak. Secara keseluruhan terlihat dengan berat kasar otak yang berubah sangat cepat dalam 2 tahun pertama kehidupan. Hal ini disebabkan karena mielinisasi atau pembentukan selubung sistem saraf.  Proses mielinisasi ini dikontrol oleh hormon seksual, khususnya estrogen. Hal ini menjelaskan kenapa proses perkembangan bahasa lebih cepat pada anak perempuan.30-32 
Pada usia sekitar 2 bulan, korteks motorik di lobus frontal menjadi lebih aktif. Anak memperoleh lebih banyak kontrol dalam perilaku motor volusional. Korteks visual menjadi lebih aktif pada usia 3 bulan, jadi anak menjadi lebih fokus pada benda yang dekat maupun yang jauh. Selama separuh periode tahun pertama korteks frontal dan hipokampus menjadi lebih aktif. Hal ini menyebabkan peningkatan kemampuan untuk mengingat stimulasi dan hubungan awal antara kata dan keseluruhan. Pengalaman dan interaksi bayi akan membantu anak  mengatur kerangka kerja otak.32  
Diferensiasi otak fetus dimulai pada minggu ke-16 gestasi. Selanjutnya maturasi otak berbeda dan terefleksikan pada perilaku bayi saat lahir. Selama masa prenatal batang otak, korteks primer dan korteks somatosensori bertumbuh dengan cepat. Sesudah lahir serebelum dan hemisfer serebri juga tumbuh bertambah cepat terutama area reseptor visual. Ini menjelaskan bahwa maturasi visual terjadi relatif lebih awal dibandingkan auditori. Traktus asosiasi yang mengatur bicara dan bahasa belum sepenuhnya matur sampai periode akhir usia pra sekolah.2 Pada neonatus, vokalisasi dikontrol oleh batang otak dan pons. Reduplikasi babbling menandakan maturasi bagian wajah dan area laring pada korteks motor. Maturasi jalur asosiasi auditorik seperti fasikulus arkuatum yang menghubungkan area auditori dan area motor korteks tidak tercapai sampai awal tahun kedua kehidupan sehingga menjadi keterbatasan dalam intonasi bunyi dan bicara.31,32  Pengaruh hormon estrogen pada maturasi otak akan mempengaruhi kecepatan perkembangan bunyi dan bicara pada anak perempuan.32
Tabel 1. Milestones Normal Perkembangan Bicara dan Bahasa pada Anak.33
Umur              Kemampuan Reseptif                                   Kemampuan Ekspresif
Lahir                      Melirik ke sumber suara                                          Menangis
                                    Memperlihatkan ketertarikan
                                   terhadap suara­suara
2 – 4 bulan                                                                                             Tertawa dan mengoceh tanpa arti                          
6 bulan                   Memberi respon jika namanya                                Mengeluarkan suara yang
                                      dipanggil                                                               merupakan kombinasi huruf
                              hidup (vowel) dan huruf mati
                                                                                                                                                (konsonan)
9 bulan                   Mengerti dengan kata ­kata yang                              Mengucapkan “ma­ma”, “da­da”
rutin (da­da)            
12 bulan                 Memahami dan menuruti                                         Bergumam
perintah sederhana                                                   Mengucapkan satu kata
15 bulan                 Menunjuk anggota tubuh                                        Mempelajari kata-­kata dengan
perlahan
18 – 24 bulan         Mengerti kalimat                                                     Menggunakan/merangkai dua
kata
24 – 36 bulan         Menjawab pertanyan                                               Frase 50% dapat dimengerti
Mengikuti 2 langkah perintah                                  Membentuk 3 (atau lebih) kalimat
Menanyakan “apa”
36 – 48 bulan         Mengerti banyak apa yang                                      Menanyakan “mengapa”
Diucapkan                                                               Kalimat 75% dapat dimengerti,                                                                                                               bahasa sudah mulai jelas,
menggunakan lebih dari 4 kata
dalam satu kalimat
48 – 60 bulan         Mengerti banyak apa yang                                      Menyusun kalimat dengan baik
dikatakan, sepadan dengan                                      Bercerita
fungsi kognitif                                                         100% kalimat dapat dimengerti
6 tahun                                                                                                   Pengucapan bahasa lebih jelas

Lundsteen membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap 32 :
  1. Tahap pralinguistik
-               0-3 bulan, bunyinya di dalam (meruku) dan berasal dari tenggorok.
-               3-12 bulan, meleter, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.
  1. Tahap protolinguitik
-               12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).
  1. Tahap linguistik
-               2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.
Tahap perkembangan bahasa di atas hampir sama dengan pembagian menurut Bzoch yang membagi perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium.34
  1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik. 0-3 bulan.  Periode lahir sampai akhir tahun pertama.  Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik. Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi. Selanjutnya intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.34
  2. Kata-kata pertama : transisi ke bahasa anak. 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan kalimat awal.  Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak. Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.34
  3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal. 9-18 bulan.  Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak, dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya.  Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.34
  4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa. 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam.  Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan benda, orang dan peristiwa serta dapat  menyelesaikan masalah fisik Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa.34

Perkembangan bahasa anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya.
Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya. 34
Usia 3 minggu bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial. Usia 12 minggu mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan. Usia 2 bulan bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya. Usia 5 bulan bayi mulai meniru gerak-gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah. Pada usia 6 bulan bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi dan benda-benda. Usia 7-12 bulan anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. Usia 2 tahun anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat 2 kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru. Lewat umur 3 tahun anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. 4,34
Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh  kesadaran sosial dalam percakapan. Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara  menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar.Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial melibatkan orang di luar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri dan menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. 4,34
Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan. 4
             
Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa pra sekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan 5 kata perhari di usia 18 bulan sampai 6 tahun.2 Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa.  Terjadi strategi pemetaan yang cepat di usia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalahlangkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima.4 
Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian dan lokasi. Definisi kata kerja anak pra sekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar. Anak pra sekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses.4 
Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat, dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.4
Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis.30 Kalimat satu kata bisa ditafsirkan dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut.4,34
Peralihan dari satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata tersebut memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda.4,34
Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun, yang mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.

Tahap perkembangan sintaksis secara singkat terbagi dalam 34:
  1. Masa pra-lingual, sampai usia 1 tahun
  2. Kalimat satu kata, 1-1,5 tahun
  3. Kalimat rangkaian kata, 1,5-2 tahun
  4. Konstruksi sederhana dan kompleks, 3 tahun.

Lewat usia 3 tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak dengan kata tanya “mengapa”,”kapan”. Pemakaian kalimat kompleks dimulai setelah anak menguasai kalimat empat kata sekitar usia 4 tahun.34

Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata, yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa.4
Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per  tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. 4,34

Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia pra sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna. 4
Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.4

Perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif
Myklebust membagi tahap perkembangan bahasa berdasarkan komponen ekspresif dan reseptif sebagai berikut 32:
  1. Lahir – 9 bulan: anak mulai mendengar dan mengerti, kemudian berkembanglah pengertian konseptual yang sebagian besar nonverbal.
  2. Sampai 12 bulan: anak berbahasa reseptif auditorik, belajar mengerti apa yang dikatakan, pada umur 9 bulan belajar meniru kata-kata spesifik misalnya dada, muh, kemudian menjadi mama, papa.
  3. Sampai 7 tahun: anak berbahasa ekspresif auditorik termasuk persepsi auditorik kata-kata dan menirukan suara. Pada masa ini terjadi perkembangan bicara dan penguasaan pasif kosa kata sekitar 3000 buah.
  4. Umur 6 tahun dan seterusnya: anak berbahasa reseptif visual (membaca). Pada saat masuk sekolah ia belajar membandingkan bentuk tulisan dan bunyi perkataan.
  5. Umur 6 tahun dan seterusnya: anak berbahasa ekspresif visual (mengeja dan menulis).

II.1.6.  Faktor resiko gangguan perkembangan bicara dan bahasa
Penyebab gangguan perkembangan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerusan impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.1, 2, 18, 22, 23
Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain  dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian dua bahasa. Bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.22, 23
Terdapat tiga penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.22
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering  dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan seperti ini sering dialami oleh laki-laki dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita dengan keterlambatan ini, kemampuan bicara saat masuk usia sekolah akan normal seperti anak lainnya.23
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif. Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.18, 22, 23
Tabel 2. Penyebab Gangguan Bicara dan Bahasa menurut Blager BF35

Penyebab                                           Efek pada Perkembangan Bicara
1. Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang                                        a. Terlambat
b. Tekanan keluarga                                                b. Gagap
c. Keluarga bisu                                                      c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Dirumah menggunakan bahasa                           d. Terlambat pemerolehan struktur bahasa
                    bilingual
2. Emosi
a. Ibu yang tertekan                                                 a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Gangguan serius pada orang tua                         b. Terlambat atau gangguan perkembangan
                                                                                                    bahasa
c. Gangguan serius pada anak                                 c. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa
3. Masalah pendengaran
a. Kongenital                                                           a. Terlambat atau gangguan bicara
                                                                                                    permanen                           
b. Didapat                                                                b. Terlambat atau gangguan bicara
                                                                                                    permanen
4. Perkembangan terlambat                               
a. Perkembangan lambat                                          a. Terlambat bicara
b. Perkembangan lambat, tetapi                               b. Terlambat bicara
                masih dalam batas rata­rata
c. Retardasi mental                                                  c. Pasti terlambat bicara
5. Cacat bawaan
a. Palatoschizis                                                        a. Terlambat dan terganggu kemampuan bicara
b. Sindrom Down                                                   b. Kemampuan bicaranya lebih rendah
6. Kerusakan otak 
a. Kelainan neuromuscular                                      a. Mempengaruhi kemampuan menghisap,
                                    menelan, mengunyah dan akhirnya timbul
                                    gangguan bicara dan artikulasi seperti
                    disartria
b. Kelainan sensorimotor                                        b.Mempengaruhi kemampuan menghisap,
                                                                                                   menelan, akhirnya menimbulkan
                   gangguan artikulasi, seperti dispraksia
c. Palsi serebral                                                       c.Berpengaruh pada pernapasan, makan
                                                                                                   dan timbul juga masalah artikulasi yang
                   dapat mengakibatkan disartria dan
                                                                                                   dispraksia
d. Kelainan persepsi                                                d.Kesulitan membedakan suara, mengerti
                                   bahasa, simbolisaasi, mengenal konsep,
                                   akhirnya menimbulkan kesulitan belajar
   di sekolah
           


Faktor Internal
Berbagai faktor internal atau faktor biologis tubuh seperti faktor persepsi, kognisi dan prematuritas dianggap sebagai faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak.31,35

Persepsi
Kemampuan membedakan informasi yang masuk disebut persepsi. Persepsi berkembang dalam 4 aspek: pertumbuhan, termasuk perkembangan sel saraf dan keseluruhan sistem; stimulasi, berupa masukan dari lingkungan meliputi seluruh aspek sensori, kebiasaan, yang merupakan hasil dari skema yang sering terbentuk. Kebiasaan, habituasi, menjadikan bayi mendapat stimulasi baru yang kemudian akan tersimpan dan selanjutnya dikeluarkan dalam proses belajar bahasa anak. Secara bertahap anak akan mempelajari stimulasi-stimulasi baru mulai dari raba, rasa, penciuman kemudian penglihatan dan pendengaran. 4
Pada usia balita, kemampuan persepsi auditori mulai terbentuk pada usia 6 atau 12 bulan, dapat memprediksi ukuran kosa kata dan kerumitan pembentukan pada usia 23 bulan.4,36   Telinga sebagai organ sensori auditori berperan penting dalam perkembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan pendengaran karena otitis media pada anak akan mengganggu perkembangan bahasa.37     
Sel saraf bayi baru lahir relatif belum terorganisir dan belum spesifik. Dalam perkembangannya, anak mulai membangun peta auditori dari fonem, pemetaan terbentuk saat fonem terdengar. Pengaruh bahasa ucapan berhubungan langsung terhadap jumlah kata-kata yang didengar anak selama masa awal perkembangan sampai akhir umur pra sekolah.4

Kognisi
Anak pada usia ini sangat aktif mengatur pengalamannya ke dalam kelompok umum maupun konsep yang lebih besar. Anak belajar mewakilkan, melambangkan ide dan konsep. Kemampuan ini merupakan kemampuan kognisi dasar untuk pemberolehan bahasa anak.4
Beberapa teori yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa: 4
  1. Bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive determinism)
  2. 2.      Kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic determinism)
  3. Pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi oleh bahasa.
  4. Bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.

Sesuai dengan teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan bahasa dan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.

Genetik
Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa gangguan bahasa merupakan kecendrungan dalam suatu keluarga yang dapat terjadi sekitar 40% hingga 70%. Separuh keluarga yang memiliki anak dengan gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki masalah bahasa. Orang tua dapat berpengaruh karena faktor keturunan sehingga mungkin bertanggung jawab terhadap faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan bahasa tersebut, disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.46-48
Menurut Bishop Edmundson, Tallal, Whitehurst dan Lewis 1992 dalam berbagai laporan kasus sering memperlihatkan riwayat keluarga positif pada gangguan komunikasi. Sekitar 28% hingga 60% dari anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa mempunyai saudara kandung dan/atau orang tua yang juga mengalami kesulitan bicara dan bahasa.47, 48
Sedangkan menurut Tallal, Lewis dan Freebairn, anggota keluarga laki-laki lebih berpengaruh dari pada wanita. Bagaimanapun, data terbanyak memperlihatkan anak-anak dengan hanya gangguan bahasa saja dan tidak pada anak dengan gangguan bicara terpisah (isolated speech disorders).48
Lewis dan Freebairn berhipotesa bahwa anak-anak dengan riwayat keluarga positif terhadap gangguan bicara akan membentuk grup spesifik ke dalam populasi gangguan bicara. Penemuan mereka tidak mendukung hipotesa karena tidak ada perbedaan bermakna yang ditemukan pada pengukuran artikulasi, fonologi, bahasa, kemampuan-kemampuan oral-motor atau kemampuan membaca dan menulis diantara anak-anak yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bicara dibanding yang bukan.47 Lewis dan Freebair menyimpulkan bahwa riwayat keluarga dengan gangguan bahasa bisa dipertimbangkan sebagai faktor risiko yang dapat digunakan untuk identifikasi awal. Identifikasi awal tersebut memungkinkan dilakukan intervensi dini bagi anak-anak yang keluarganya memperlihatkan gangguan ini.47
Demikian pula anak yang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat keterlambatan atau gangguan bahasa maka beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula.46-48 Riwayat keluarga yang dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara, memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar. 48

Prematuritas
Penyebab khusus berkaitan antara permasalahan periode pre atau perinatal dengan gangguan bicara dan bahasa juga telah dibuktikan. Infeksi selama kehamilan, imaturitas dan berat badan lahir rendah dilaporkan mempunyai efek negatif pada perkembangan bicara dan bahasa.49, 50
Bax Stevenson dan Menyuk menemukan perbedaan yang tidak bermakna sejumlah kejadian antara imaturitas dan berat badan lahir rendah anak.  Sebaliknya Byers-Brown dan kawan-kawan melaporkan secara bermakna tentang keterlambatan proses pengeluaran suara dalam bicara pada bayi prematur.49
Weindrich menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score, lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar rumah sakit.50
Faktor Eksternal (Faktor Lingkungan)
Faktor lingkungan termasuk yang paling menentukan.  Faktor lingkungan di mana seorang anak dibesarkan telah lama dikenal sebagai faktor penting yang menentukan perkembangan anak. Banyak anak yang berasal dari daerah yang sosial ekonominya buruk disertai berbagai layanan kesehatan yang tidak memadai, asupan nutrisi yang buruk merupakan keadaan tekanan dan gangguan lingkungan yang mengganggu berbagai pertumbuhan dan perkembangan anak, diantaranya gangguan bahasa.56-66

Pola asuh
Law dkk juga menemukan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak adekuat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan bahasa yang rendah. 56


Lingkungan verbal
Lingkungan verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak di lingkungan keluarga profesional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih rendah.57
Studi lain juga melaporkan ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor risiko keterlambatan bahasa pada anaknya. 58, 59
Chouhury dan beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubugan dengan intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.57, 59
Menurut Gore Eckenrode, McLoyd, McLoyd Wilson, masalah kemiskinan dapat menjadi penyebab meningkatnya risiko berbagai masalah dalam rumah tangga. Kemiskinan secara signifikan mempertinggi risiko terpaparnya masalah kesehatan seperti asma, malnutrisi, gangguan kesehatan mental kurang perhatian dan ketidak-teraturan perawatan dari orang tua, defisit dalam perkembangan kognisi dan pencapaian keberhasilan.60, 63
Beberapa penelitian yang dilaporkan Attar Guerra, Brooks-Gunn, Liaw  Brooks-Gunn dan McLoyd menjelaskan bahwa keluarga yang bermasalah, terpapar lebih besar faktor-faktor risiko daripada keluarga yang tidak berada dibawah tingkat kemiskinan, dan konsekuensi dari faktor-faktor risiko ini dapat lebih berat pada anak dalam keluarga ini.64,66
Anak yang terpapar berbagai faktor risiko, memiliki risiko mengalami gangguan perkembangan yang semakin meningkat. Salah satu yang termasuk gangguan perkembangan anak tersebut adalah specific language impairment (SLI). Hal ini telah dilaporkan oleh Spitz dan Tallal Flax, mereka menjelaskan secara umum tentang pencapaian yang buruk dalam berbahasa pada anak meskipun anak tersebut memiliki pendengaran dan intelegensi nonverbal yang normal.63, 66
Penelitian Fazio, Naremore dan Connell, lebih mengkhususkan hal ini bahwa dapat diartikan suatu kondisi yang menyebabkan seorang anak memiliki penilaian spesifik dibawah rata-rata standar tes bahasa, tetapi berada pada level rata-rata untuk tes intelegensi nonverbal. Dengan demikian, pencegahan SLI dapat dengan mengidentifikasi faktor resiko anak sebelum diagnosis formal dibuat.66
 Beberapa penelitian mengungkapkan faktor-faktor risiko biologi untuk SLI dan penempatan-penempatan faktor lain dengan melihat “outcome” anak-anak sekolah yang ditempatkan di neonatal intensive care units (NICUs) setelah lahir dengan segera. Anak-anak dari populasi ini diketahui memiliki risiko untuk keterlambatan kognisi dan kesulitan akademik karena mereka biasanya lahir prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 g) atau mengalami respiratori distres.49,50
Menurut Resnick, Rice, Spitz O’Brien dan  Siegel Tomblin, sebagian besar literatur menyatakan bahwa meskipun anak-anak dari NICU lebih berisiko mengalami kesulitan kognisi seperti retardasi mental dan gangguan belajar, mereka tidak memiliki risiko yang meningkat untuk masalah spesifik bahasa, khususnya saat angka penilaian disesuaikan karena prematuritasnya.50
Beberapa penelitian yang dilakukan Beitchman, Hood Inglis, Spitz, Tallal Ross, Tomblin telah memperlihatkan bahwa gangguan bahasa umumnya memiliki kecenderungan dalam suatu keluarga berkisar antara 40% hingga 70%. Hampir separuh dari keluarga yang anak-anaknya mengalami gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki problem bahasa. Dengan demikian orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin tidak diketahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.46-48
Kondisi lingkungan merupakan hal yang penting menyangkut hasil perkembangan seorang anak. Beberapa anak yang datang dari keluarga yang tidak stabil dan kurangnya perhatian, perawatan, dan kurang memadainya kebutuhan nutrisi dan perawatan kesehatan, dapat membentuk level stress lingkungan yang merugikan bagi perkembangan anak termasuk bahasa. Risiko dari problem-problem bahasa juga dikaitkan dengan faktor sosioekonomi dan rendahnya status ekonomi.55, 59
Peneliti-peneliti lain mendiskusikan beberapa variabel-variabel lingkungan yang tampak lebih dapat diprediksi. Seperti yang dilaporkan Hoff-Ginsberg, Neils Aram, Pine,  Tallal, Tomblin, Tomblin dan Hardy faktor permintaan cara persalinan ternyata termasuk faktor risiko gangguan perkembangan bicara pada anak. Sedangkan menurut Paul, Rice, Tomblin dan Tomblin menunjukkan pendidikan ibu yang rendah termasuk salah satu faktor risiko gangguan bahasa yang terjadi pada anak.  Orang tua tunggal menurut Andrews, Goldberg, Wellen, Goldberg McLaughlin dan Miller Moore juga merupakan faktor risiko yang harus diperhitungkan.59, 61, 62
Menurut Sameroff dan Barocas, tersusunnya model risiko perkembangan dapat digunakan untuk memprediksi dengan lebih akurat, dengan mengkombinasi satu atau lebih faktor-faktor risiko tersebut adalah efek komulatif dari risiko yang multipel.64
Dalam suatu model penelitian dari Sameroff menunjukkan beberapa faktor risiko sosial dan keluarga diantaranya adalah: masalah-masalah kesehatan mental ibu, kecemasan ibu, sikap otoriter ibu dalam mengasuh anak, hubungan ibu-anak yang buruk, pendidikan ibu yang kurang dari menengah atas, orang tua yang kurang atau tidak memiliki ketrampilan dalam pekerjaan, status etnik minoritas, tidak ada bapak, beberapa tekanan kehidupan tahun terdahulu, dan ukuran keluarga yang besar.63, 64
Dilaporkan bahwa semua faktor tersebut adalah rangkaian individu yang berkaitan dengan nilai IQ anak-anak pada usia 4 tahun dan sebagian besar mayoritas masih berhubungan dengan IQ pada usia 13 tahun. Selain itu, jumlah faktor risiko sebagaimana didefinisikan oleh risiko kumulatif dalam, adalah prediktor kuat IQ pada usia 4 tahun dengan 58% dan pada umur 13 dengan varians 61%.64
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hooper, Burchinal, Roberts, Zeisel dan Neebe juga menyajikan fakta-fakta yang menggunakan model risiko komulatif untuk memprediksi kemampuan kognitif dan bahasa pada bayi yang lebih dipengaruhi oleh status sosioekonomi yang rendah pada populasi Afrika Amerika. Hooper  mengidentifikasi satu perangkat dari 10 faktor-faktor risiko sosial dan keluarga berdasarkan pada model risiko dari Sameroff berupa status kemiskinan, pendidikan ibu kurang dari sekolah menengah atas, ukuran keluarga yang besar, ibu yang tidak menikah, hidup yang penuh tekanan, dampak dari ibu yang depresi, interaksi ibu-anak yang buruk, IQ ibu, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas perawatan sehari-hari.59, 60, 64
Seluruh faktor risiko sosial dan keluarga dimasukkan ke dalam studi, saat bayi berusia 6 sampai 12 bulan. Peneliti-peneliti menemukan bahwa 9 dari 10 faktor-faktor risiko (tekanan hidup merupakan pengecualian) terkait dengan keberhasilan kognisi dan bahasa dari infan-infan. Komulatif indeks risiko dihubungkan dengan pengukuran bahasa dengan varians sekitar 12% sampai 17% tetapi bukan pengukuran kognisi.61, 63
Evans dan English menyajikan fakta-fakta bahwa anak-anak dengan orang tua berpenghasilan rendah terpapar faktor-faktor risiko lingkungan dalam jumlah yang lebih besar daripada yang berpenghasilan menengah. Mereka memperkenalkan tiga penyebab stress psikososial (kekerasan, pertengkaran keluarga, perpisahan anak dengan keluarga) dan tiga penyebab stress fisik (kekacauan, kegaduhan, kualitas rumah yang rendah) merupakan faktor risiko yang memberikan pengaruh negatif.61, 62
Dalam penelitiannya tentang lingkungan yang miskin, mereka menemukan hanya 20% anak-anak yang hidup dalam keluarga dengan penghasilan yang rendah tidak terpapar satupun faktor risiko. Sebaliknya, 61% keluarga dengan penghasilan menengah tidak terpapar faktor risiko. Temuan ini menyatakan bahwa mayoritas anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah terpapar lebih banyak masalah kemelaratan daripada kelompok berpenghasilan menengah dan disfungsi kognitif, prilaku, atau sosial akan meningkat.58, 60
Sampai saat ini penelitian-penelitian terus mempelajari tentang perbedaan perkembangan bahasa anak yang diambil dari budaya dan latar-belakang sosioekonomi yang berbeda dan pengaruh dari perbedaan-perbedaan ini terhadap pencapaian akademik selanjutnya.63
Robertson membandingkan kemampuan fonologi anak TK dari keluarga dengan kemampuan bahasa tinggi dan rendah dan menemukan bahwa anak-anak dari kemampuan bahasa rendah secara signifikan lebih buruk pada rangkaian pengukuran kognisi, linguistik, pra-baca. Dua tahun pemantauan terlihat bahwa anak-anak ini tidak mengejar anak-anak dari keluarga kemampuan bahasa baik.64
Burt, Holm, and Dodd juga menemukan hubungan antara prestasi yang buruk dengan kemampuan bahasa yang rendah dengan menilai prestasi anak-anak pada beberapa tugas-tugas fonologi. Suatu usaha untuk menjelaskan keterkaitan antara kelemahan dan kegagalan sekolah.64
Hart and Risley mempelajari perbedaan antara kualitas bahasa ditujukan pada anak-anak dengan latar belakang kemampuan bahasa yang berbeda pada 21/2 tahun pertama kehidupan mereka. Mereka melaporkan bahwa anak-anak dari latar belakang kemampuan bahasa yang rendah berada dalam kelemahan karena orang tua mereka atau pengasuh sangat jarang mengajak berbicara; akibatnya mereka miskin perbendaharaan kata dan kemampuan komunikasi dibanding kelompok dengan kemampuan bahasa yang lebih tinggi.64
Otitis media
Menurut Grievink didapatkan sekitar 80% dari seluruh anak prasekolah mengalami satu atau lebih episode otitis media Akut atau otitis media effusion Selama episode ini, anak-anak mengalami fluktuasi kehilangan pendengaran, biasanya antara 20 dB dan 50 dB. Dari penilitian Gravel dan Nozza gangguan tersebut mempengaruhi jumlah dan kualitas bicara dan bahasa yang didengar. 65
Roberts, Pagel Paden, Roberts Clarke-Klein, dan Schwartz telah melaporkan kemungkinan ada hubungan antara otitis media dengan atau tanpa efusi dan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa. Artikel-artikel tersebut menyimpulkan bahwa banyak anak yang mengalami episode infeksi telinga tengah mempunyai gangguan bicara dan bahasa. Tetapi tidak semua anak yang mempunyai gangguan bicara dan bahasa mengalami infeksi telinga tengah.6
Diagnosis gangguan bicara pada anak
Seperti pada gangguan perkembangan lainnya, kesulitan utama dalam diagnosis adalah membedakannya dari variasi perkembangan yang normal. Anak normal mempunyai variasi besar pada usia saat mereka belajar berbicara dan terampil berbahasa. Keterlambatan berbahasa sering diikuti kesulitan dalam membaca dan mengeja, kelainan dalam hubungan interpersonal, serta gangguan emosional dan perilaku. Untuk menegakkan diagnosa harus dilakukan pengujian terhadap intelektual nonverbal anak. Pengamatan pola bahasa verbal dan isyarat anak dalam berbagai situasi dan selama interaksi dengan anak-anak lain membantu memastikan keparahan bidang spesifik anak yang terganggu juga membantu dalam deteksi dini komplikasi perilaku dan emosional.1, 40, 41
Anamnesis
Anamnesis pada gangguan bahasa dan bicara mencakup perkembangan bahasa anak. Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan antara lain: 42
  • Pada usia berapa bayi mulai mengetahui adanya suara, misalnya dengan respon berkedip, terkejut atau mengerakkan bagian tubuh
  • Pada usia berapa bayi mulai tersenyum (senyum komunikatif), misalnya diajak berbicara.
  •  Kapan bayi mulai mengeluarkan suara “aaaggh”.
  • Orientasi terhadap suara, misalnya bila ada suara apakah bayi memalingkan atau mencari arah suara.
  • Kapan bayi memberi isyarat daag dan bermain cikkebum.
  • Mengikuti perintah satu langkah, seperti “beri ayah sepatu” atau “ambil koran”.
  • Berapa banyak bagian tubuh yang dapat ditunjukan oleh anak, seperti mata, hidung, kuping dan sebagainya.


American Psychiatric association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV) membagi gangguan bahasa dalam 4 tipe.43
1. Gangguan bahasa ekspresif
2. Gangguan bahasa reseptif­ekspresif
3. Gangguan phonological
4. Gagap
Pada gangguan bahasa ekspresif, secara klinis kita bisa menemukan gejala seperti perbendaharaan kata yang jelas terbatas, membuat kesalahan dalam kosakata, mengalami kesulitan dalam mengingat kata-kata atau membentuk kalimat yang panjang dan memiliki kesulitan dalam pencapaian akademik dan komunikasi sosial, namun pemahaman bahasa anak tetap relatif utuh. Gangguan menjadi jelas kira-kira pada usia 18 bulan, saat anak tidak dapat mengucapkan kata dengan spontan atau meniru kata dan menggunakan gerakan badannya untuk menyatakan keinginannya. Jika anak akhirnya bisa berbicara, defisit bahasa menjadi jelas, terjadi kesalahan artikulasi seperti bunyi th, r, s, z, y. Riwayat keluarga yang memiliki gangguan bahasa ekspresif juga ikut mendukung diagnosis.1, 10 Pada gangguan bahasa campuran reseptif-ekspresif, selain ditemukan gejala-gejala gangguan bahasa ekspresif, juga disertai kesulitan dalam mengerti kata dan kalimat. Ciri klinis penting dari gangguan tersebut adalah gangguan yang bermakna pada pemahaman bahasa. Gangguan ini biasanya tampak sebelum usia 4 tahun. Bentuk yang parah terlihat pada usia 2 tahun, bentuk ringan tidak terlihat sampai usia 7 tahun atau lebih tua. Anak dengan gangguan bahasa reseptif-ekspresif campuran memiliki gangguan auditorik sensorik atau tidak mampu memproses simbol visual seperti arti suatu gambar. Mereka memiliki defisit dalam menintegrasikan simbol auditorik maupun visual, contohnya mengenali atribut dasar yang umum untuk mainan truk atau mainan mobil penumpang. Anak dengan gangguan bahasa campuran reseptif-ekspresif biasanya tampak tuli.1, 10 Anak-anak dengan kesulitan berbicara memiliki masalah dalam pengucapan, yaitu berhubungan dengan gangguan motorik, diantaranya kemapuan untuk memproduksi suara.19 Anak yang gagap dapat diketahui dari cara dia baerbicara, dimana terjadi pengulangan atau perpanjangan suara, kata, atau suku kata. Biasanya sering terjadi pada anak laki-laki, sangat sering disertai mengedipkan mata dan menggoyangkan kepala. 20
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik digunakan untuk mengungkapkan penyebab lain dari gangguan bahasa dan bicara. Perlu diperhatikan ada tidaknya mikrosefali, anomali telinga luar, otitis media yang berulang, sindrom William (fasies Elfin, perawakan pendek, kelainan jantung, langkah yang tidak mantap), celah palatum dan lain-lain. Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh anak menirukan gerakan mengunyah, menjulurkan lidah, dan mengulang suku kata pa, ta, pata, pataka. 36
Pemeriksaan Penunjang
  • BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) merupakan cara pengukuran evoked potensial (aktivitas listrik yang dihasilkan saraf VIII, pusat-pusat neural dan traktus di dalam batang otak) sebagai respon terhadap stimulus auditorik.
  • Pemeriksaan audiometrik
Pemeriksaan audiometrik diindikasikan untuk anak-anak yang sangat kecil dan untuk anak-anak yang ketajaman pendengarannya tampak terganggu. Ada 4 kategori pengukuran dengan audiometrik: 19, 20
a)      Audiometrik tingkah laku, merupakan pemeriksaan pada anak yang dilakukan dengan melihat respon dari anak jika diberi stimulus bunyi. Respon yang diberikan dapat berupa menoleh ke arah sumber bunyi atau mencari sumber bunyi. Pemeriksaan dilakukan di ruangan yang tenang atu kedap suara dan menggunakan mainan yang berfrekuensi tinggi. Penilaian dilakukan terhadap respon yang diperlihatkan anak. 19
b)      Audiometrik bermain, merupakna pemeriksaan pada anak yang dilakukan sambil bermain, misalnya anak diajarkan untuk meletakkan suatu objek pada tempat tertentu bila dia mendengar bunyi. Dapat dimulai pada usia 3-4 tahun bila anak cukup kooperatif. 19, 44
c)       Audiometrik bicara. Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus pada daftar yang disebut: phonetically balance word LBT (PB List). Anak diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder. Pada tes ini dilihat apakah anak dapat membedakan bunyi s, r, n, c, h, ch. Guna pemeriksaan ini adalah untuk menilai kemampuan anak dalam berbicara sehari-hari dan untuk menilai pemberian alat bantu dengar (hearing aid). 19, 44
d)     Audiometri objektif, biasanya memerlukan teknologi khusus.9
  • CT scan kepala untuk mengetahui struktur jaringan otak, sehingga didapatkan gambaran area otak yanga abnormal.
  • Timpanometri digunakan untuk mengukur kelenturan membrane timpani dan system osikuler. 19
Selain tes audiometrik, bisa juga digunakan tes intelegensi. Paling dikenal yaitu skala Wechsler, yang menyajikan 3 skor intelegen, yaitu IQ verbal, IQ performance, IQ gabungan: 43
  1. Skala intelegensi Wechsler untuk anak III: penyelesaian susunan gambar. Tes ini terdiri dari satu set gambar-gambar objek yang umum, seperti gambar pemandangan. Salah satu bagian yang penting dihilangkan dan anak diminta untuk mengidentifikasinya. Respon dinilai sebagai salah atau benar.
  2. Skala intelegensi Wechsler utuk anak III: mendesain balok, anak diberikan pola bangunan dua dimensi dan kemudian diminta untuk membuat replikanya menggunakan kubus dua warna. Respon dinilai sebagai salah atau benar.

Tabel 3. Diagnosis banding beberapa penyebab gangguan perkembangan bahasa dan bicara
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan pemecahan masalah
visuo-motor
Pola perkembangan
Keterlambatan Fungsional Normal Kurang normal Normal Hanya ekspresif yang terganggu
Gangguan  Pendengaran Kurang normal Kurang normal Normal Disosiasi
Redartasi mental Kurang normal Kurang normal Kurang normal Keterlambatan global
Gangguan komunikasi sentral Kurang normal Kurang normal Normal Disosiasi, deviansi
Kesulitan belajar normal, kurang normal Normal normal, kurang normal Disosiasi
Autis Kurang normal normal, kurang normal Tampaknya normal, normal, selalu lebih
baik dari bahasa
Deviansi, disosiasi
Mutisme elektif Normal Normal normal, kurang normal  
Penalaksanaan
Diagnosis yang tepat terhadap gangguan bicara dan bahasa pada anak, sangat berpengaruh terhadap perbaikan dan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Terapi sebaiknya dimulai saat diagnosis ditegakkan, namun hal ini menjadi sebuah dilema, diagnosis sering terlambat karena adanya variasi perkembangan normal atau orang tua baru mengeluhkan gangguan ini kepada dokter saat mencurigai adanya kelainan pada anaknya, sehingga para dokter lebih sering dihadapkan pada aspek kuratif dan rehabilitatif dibandingkan preventif. Tata laksana dini terhadap gangguan ini akan membantu anak-anak dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil kelainan di masa sekolah1, 6, 25
Gangguan bicara dan bahasa pada anak cenderung membaik seiring pertambahan usia, dan pada dasarnya perkembangan bahasa dilatarbelakangi perawatan primer orang tua dan keluarga terhadap anak. Usaha preventif pada masa neonatus, bayi dan balita dapat dilakukan dengan memberi pujian dan respon terhadap segala usaha anak untuk mengeluarkan suara, serta member tanda terhadap semua benda dan kata yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Pola intonasi suara dapat diperbaiki sejalan dengan respon anak yang semakin mendekati pola orang dewasa.
            Secara umum, anak akan berusaha untuk lebih baik saat orang dewasa merespon apa yang diucapkannya tanpa menekan anak untuk mengucapkan suara atau kata tertentu. Sebagai motivasi ketika seorang anak berbicara satu kata secara jelas, pendengan sebaiknya merespon tanpa paksaan dengan memperluas hingga dua kata. 1, 2, 6, 15, 25
            Tindakan kuratif penatalaksanaan gangguan bicara dan bahasa pada anak disesuaikan dengan penyebab kelainan tersebut. Penatalaksanaan dapat melibatkan multi disiplin ilmu dan terapi ini dilakukan oleh suatu tim khusus yang terdiri dari fisioterapis, dokter, guru dan orang tua pasien. Beberapa jenis gangguan bicara dapat diterapi dengan terapi wicara, tetapi hal ini membutuhkan perhatian medis seorang dokter. Anak-anak usia sekolah yang memiliki gangguan bicara dapat diberikan pendidikan program khusus. Beberapa sekolah tertentu menyediakan terapi wicara kepada para murid selama jam sekolah, meskipun menambah hari belajar. 1, 6
Konsultasi dengan psikoterapis anak diperlukan jika gangguan bicara dan bahasa diikuti oleh gangguan tingkah laku, sedangkan gangguan bicaranya dievaluasi oleh ahli terapi wicara. 15
Skala Receptive Expressive Emergent Language
Skala Receptive Expressive Emergent Language (REEL) adalah salah satu jenis instrumen yang berbentuk kuesioner yang diisi oleh orang tua.  REEL pertama kali dipakai tahun 1971, yang kemudian mengalami revisi pertama kali tahun 1991, dan yang terakhir, REEL-3, tahun 2003.45, 46 Skala REEL menggunakan model penilaian tridimensi, yaitu menilai perkembangan bahasa menurut isi, bentuk dan pemakaian bahasa, menurut 4 tahap perkembangannya seperti yang diuraikan oleh Bzoch, dan juga menurut proses berbahasanya baik reseptif maupun ekspresif. Kuesioner penilaiannya dibagi dalam 2 subskala yaitu komponen bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Masing-masing subskala terdiri dari 66 pertanyaan. (lihat lampiran 5) Empat tahap usia perkembangan bahasa dalam skala REEL adalah tingkat pertama ( 0- 3 bulan), kedua (3-9 bulan), ketiga (9-18 bulan)  dan tingkat keempat (18-36 bulan).24 Kelompok usia yang terakhir dipakai dalam penelitian ini. Pengisian kuesioner dapat melalui wawancara langsung dengan orang tua atau caregiver atau pemberi laporan dapat mengisi sendiri formulir kuesioner. Pengisian kuesioner ini membutuhkan waktu kira-kira 15-20 menit, dapat dilakukan di klinik atau di rumah.46
Tiap subskala REEL akan dihitung skor masing masing. Skor yang didapat dari tiap subskala ini merupakan nilai mentah yang akan dikonversikan lagi menjadi skor kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif. Hasil penjumlahan nilai mentah reseptif dan ekspresif juga akan dikonversikan menjadi skor kemampuan bahasa (language ability score = LAS) (lihat lampiran 5).46
 Berdasarkan nilai kemampuan bahasa anak, ditentukan tingkat perkembangan bahasa, selanjutnya akan terlihat apakah ada keterlambatan dalam perkembangan bahasanya.
 Daftar Pustaka
Daftar Pustaka

  1. Soetjiningsih. Perkembangan anak dan permasalahannya. Dalam:Narendra MB,Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, 
  2. Ranuh IG, penyunting. Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak dan Remaja; Edisi I. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, Sagung Seto, 2002; 91
  3. Busari JO, Weggelaar NM. How to investigate and manage the child who is slow to speak. BMJ 2004; 328:272­ 276
  4. Parker S, Zuckerman B, Augustyn M. Developmental and behavioral Pediatrics (2nd ed): Language Delays. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, 2005
  5. Owens RE. Language Development an Introduction, 5th edition. New York:Allyn and Bacon; 2001.
  6. Smith C, Hill J, Language Development and Disorders of Communication and Oral Motor Function. In : Molnar GE, Alexander MA,editors. Pediatric Rehabilitation. Philadelphia: Hanley and Belfus;1999.p. 57-79.
  7. Rydz D, Srour M, Oskoui M, Marget N, Shiller M, Majnemer A, et.al. Screening for developmental delay in the setting of a community pediatr clinic: A Prospective assessment of parent-Report questionnaires. Pediatrics 2006;118;e1178-e1186.
  8. Silva PA, Williams SM, McGee R. A longitudinal study of children with developmental language delay at age three; later intelligence , reading and behavior problems. Dev Med Child Neurol 1987;29;630-640.
  9. Chris V, Suzanne H, Erik JA, Scherder, Ben M, Esther H. Motor Profile of Children With Development Speech and Language Disoreders. Pediatris, v0l 120 no 1 July, pp.e158-e163.
  10. K. Alcock. Oral movements and language. Down Syndrome Research and Practice 11(1), 1-8. © 2006 The Down Syndrome Educational Trust. All Rights Reserved. ISSN: 0968-7912. Diunduh dari http://information. downsed. Org/ dsrp/11/01
  11. Moore CA, Ruark JL. (1996). Does speech emerge from earlier appearing oral motor behaviors? Journal of Speech and Hearing Research 1996;39(5), 1034-1047.
  12. Dworkin JP, Culatta RA . Oral structural and neuromuscular characteristics in children with normal and disordered articulation. Journal of Speech and HearingmDisorders 1985;50(2), 150-156.
  13. Chaer A, Psiokolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Abdi.. 2003
  14. Owens RE. Language Development an Introduction, 5th edition. New York:Allyn and Bacon; 2001.
  15. Salim P, Salim Y, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Edisi kedua.Jakarta: Modern English Press;1995.
  16. Alwi H, Sugono D, Adiwinata SS. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, Departement Pendidikan Nasional. Jakarta: Balai pustaka;2005.
  17. Oxford Learner’s Dictionary, New Ediition. Oxford University Press. 2003
  18. Coplan, James. Normal speech and language development : Pediatric In Review1995; 91­99
  19. Markum, AH. Gangguan perkembangan berbahasa. Dalam : Markum, Ismael S, Alatas H, Akib A, Firmansyah A, Sastroasmoro S, editor. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jilid I. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1991; 56­69
  20. Virginia W, Meredith G, Dalam : Adam, boeis highler. Gangguan bicara dan bahasa. Buku ajar penyakit telinga, hidung, tenggorok. Edisi 6. Jakarta : EGC, 1997 ; 397­410.
  21. Kaplan,   Harold   I.   Gangguan   komunikasi.   Dalam   :   I   Made   Wiguna,   editor. Sinopsis  psikiatri  :  Bina  Rupa  Aksara, 1997 ; 766­82
  22. British medical journal. Language disorders: a 10 year  research  update  review.  Bmj ; 2000.
  23. Council on Children with Disabilities, Section on Developmental Behavioral Pediatrics, Bright Futures Steering committee and Medical Home Initiatives for Children with special needs Project Advisory Committee.  Identifying infants and young children with  developmental disorders in the Medical Home: An algorithm for developmental surveillance and screening. Pediatrics 2006;118;405-420.
  24. Law J, Bowle J, Harris F, Harkness A, Nye C., Screening for speech and language delay; a systematic review of literature, In: Health Technology Assessment 1998 Vol2(9).
  25. Sidiarto L. Berbagai gangguan berbahasa pada anak. Proceedings of Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Keempat. Jakarta: Penerbit Kanisius; 1991.
  26. Departemen Rehabilitasi Medik. Buku laporan pasien rawat jalan. Jakarta. 2006
  27. Wahjuni S. Pemeriksaan Penyaring Keterlambatan Perkembangan Bahasa pada Anak Batita dengan Early Language Milestone Scale di Kelurahan Paseban Jakarta Pusat. Jakarta. FKUI. 1998
  28. Victor M, Ropper AH. Priciples of Neurology Adams and Victor’s, seventh edition. McGraw-Hill.2001.
  29. Lundsteen SW, Tarrow NB. Guiding young children’s learning. New York; Mc Graw Hill; 1981.
  30. Rahyono FX. Dalam : Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Editor : Kurhayanti.Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007,hal 32-37.
  31. Myklebust M. Prelinguistic Communication. In: Yule W, Rutter M,eds.  Language development and disorders; Clinics in developmental medicine. 1968.
  32. Guyton AC, Hall JE. Dalam : Irawati Setyawan, penyunting. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC, 1997 ; 909­19
  33. Myklebust M. Prelinguistic Communication. In: Yule W, Rutter M,eds.  Language development and disorders; Clinics in developmental medicine. 1968.
  34. Heidi M. Feildman Evaluation and management of speech and language disorder in preschool children. Pediatrics in Review 2005 ; 26 (4) 131­142. 
  35. Maturana HR, Biology of Language: The Epistemology of Reality. IN: Psychology and Biology of Language and Thought. New York :Academic Press; 1978.p.27-63.
  36. Soetjiningsih. Gangguan bicara dan bahasa pada anak. Tumbuh kembang anak. Jakarta EGC, 1995 ; 237­40
  37. Blum NJ, Baron MA. Speech and language disorders. In: Schwartz MW, ed. Pediatric primary care: a problem oriented approach. St. Louis: Mosby, 1997:845-9.
  38. Departemen kesehatan RI. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa III. Edisi I. Jakarta : Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI, 1995 ; 
  39. Soedjatmiko. Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita. Sari Pediatri 1995; 3. 
  40. Simkin Z, Conti G. Evidence of reading difficulty in subgroups children with specific language impairment. Child language teaching and therapy 2006 ; 22 (3) ; 315­3
  41. Roberts, Susan. Speech and language disorders. Dalam : Harvey D, Miles M, Smyth D, editor. Community Child Health and Pediatrics. London : Butterworth Heinemann, 1997 ; 505­12
  42. Bzoch K, League R. Receptive Expressive Emergent Language Test (REEL), 3nd ed. Pro-Ed. Austin. 2003.
  43. Anitta Florence ST, Modifikasi Skala Reseptive Expresive Emergent Language sebagai instrument penyaring keterlambatan bahasa anak usia 18 sampai 36 bulan, Jakarta oktober 2008
  44. Bzoch K, League R. Receptive Expressive Emergent Language Test (REEL), 3nd ed. Pro-Ed. Austin. 2003.
  45. Anitta Florence ST, Modifikasi Skala Reseptive Expresive Emergent Language sebagai instrument penyaring keterlambatan bahasa anak usia 18 sampai 36 bulan, Jakarta oktober 2008
  46. Fisher S, Vargha-Khadem F, Watkins KE, Monaco AP, Pembry, ME. Localisation of a gene implicated in a severe speech and language disorder. Nature Genetics 1998, 18, 168.
  47. 47.  Vargha-Khadem F, Watkins K, Alcock KJ, Fletcher P, Passingham R. Praxic and nonverbal cognitive deficits in a large family with a genetically transmitted speech and language disorder. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 1995, 92(3), 930-933.
  48. 48.  Gopnik, M. & Crago, M. B.. Familial aggregation of a developmental language disorder. Cognition 1991, 39, 1-50.
  49. Liaw, F., & Brooks-Gunn, J. (1994). Cumulative familial risks and low birthweight children’s cognitive and behavioral development. Journal of Clinical Child Psychology, 23, 360–372.
  50. Halsey, C. L., Collin, M. F., & Anderson, C. L. (1993). Extremely low birth weight children and their peers: A comparison of preschool performance. Pediatrics, 91, 807–811.
  51. Johnston J.  Factors that Influence Language Development. In : Tremblay RE, Barr RG, Peters R, eds. Encyclopedia of Language and Literacy Development (pp1-6). London. Canadian language and Literacy Research network. 2006.
  52. Fox A, Dodd B, Howard D. Risk factors for speech disorders in children. Int J Lang Common Disord 2002;37(2):117-131.
  53. Delgado, Christine E. F.Vagi, Sara J.Scott, Keith G.Early Risk Factors for Speech and Language Impairments. Exceptionality, v13 n3 p173-191 2005
  54. 54.  Fox A V; Dodd Barbara; Howard David. Risk factors for speech disorders in children. International journal of language & communication disorders / Royal College of Speech & Language Therapists 2002;37(2):117-31.
  55. 55.  Fox A. V.1; Dodd B.1; Howard D.1Risk factors for speech disorders in children. International Journal of Language & Communication Disorders, Volume 37, Number 2, 1 April 2002 , pp. 117-131(15)
  56. 56.  O’Callaghan, Michael, Williams, Gail M.Andersen, Margaret J.
    Bor, William Najman, Jake M. Social and Biological Risk Factors for Mild and Borderline Impairment of Language Comprehension in a Cohort of Five-Year-Old Children. Developmental Medicine and Child Neurology. 1995-01-01;37,12,1051-1061
  57. 57.  Tina L. Stanton-Chapman, Derek A. Chapman, Ann P. Kaiser, Terry B. Hancock .Cumulative Risk and Low-Income Children’s Language Development. Topics in Early Childhood Special Education, Vol. 24, No. 4, 227-237, 2004
  58. 58.  Adams, C. D., Hillman, N., & Gaydos, G. R. Behavioral diffi­culties in toddlers: Impact of sociocultural and biological risk factors. Journal of Clinical Child Psychology, 1994. 23, 373–381.
  59. 59.  Brooks-Gunn, J., Klebanov, P., & Liaw, F. The learning, physi­cal, and emotional environment of the home in the context of pov­erty: The infant health and development program. Children and Youth Services Review, 1995. 17, 251–276.
  60. Duncan, G., Klebanov, P., & Brooks-Gunn, J. (1994). Economic depri­vation and early childhood development. Child Development, 65, 296–318.
  61. Evans, G. W., & English, K. (2002). The environment of poverty: Multiple stressor exposure, psychophysiological stress, and socioe-motional adjustment. Child Development, 73, 1238–1248.
  62. Fazio, B. B., Naremore, R. C., & Connell, P. J. (1996). Tracking chil­dren from poverty at-risk for specific language impairment: A 3-year longitudinal study. Journal of Speech and Hearing Research, 39, 611–624.
  63. Halpern, R. (2000). Early childhood intervention for low-income chil­dren and families. In J. P. Shonkoff & S. J. Meisels (Eds.), Handbook of early childhood intervention (2nd ed., pp. 361–386). Cambridge, England: Cambridge University Press.
  64. Hoff-Ginsberg, E. (1998). The relation of birth order and socioeco-nomic status to children’s language experience and language devel­opment. Applied Psycholinguistics, 19, 603–629.
  65. 65.  Brant LJ, Gordon-Salant S, Pearson JD, Klein LL, Morrell CH, Metter EJ, Fozard JL. Risk factors related to age-associated hearing loss in the speech frequencies. J Am Acad Audiol. 1996 Jun;7(3):152-60

Supported  by
CHILDREN SPEECH CLINIC
Yudhasmara Foundation
Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210
phone : 62(021) 70081995 – 5703646
email : judarwanto@gmail.com,
http://speechclinic.wordpress.com/
Clinic and Editor in Chief :
Dr WIDODO JUDARWANTO
email : judarwanto@gmail.com
curriculum vitae